Indeks Dolar AS (DXY) bertahan di kisaran 99,6 pada perdagangan Kamis (06/08), masih dekat level terendah dalam tujuh pekan. Pelemahan ini dipicu oleh kesepakatan Iran dan Oman untuk membuka kembali sebagian jalur pelayaran di Selat Hormuz, yang mendorong harga minyak turun. Kondisi tersebut meredakan kekhawatiran inflasi sekaligus mengurangi ekspektasi kebijakan moneter yang lebih agresif dari Federal Reserve.
Pelaku pasar kini memperkirakan The Fed hanya akan menaikkan suku bunga satu kali hingga akhir tahun, lebih rendah dibandingkan proyeksi dua kali kenaikan pada pekan lalu. Optimisme terhadap membaiknya pasokan energi dari Timur Tengah membuat tekanan terhadap harga energi berkurang, sehingga prospek inflasi di Amerika Serikat terlihat lebih terkendali.
Di sisi lain, data ADP menunjukkan sektor swasta AS hanya menambah 44.000 lapangan kerja pada Juli, jauh di bawah perkiraan 70.000 dan menjadi pertumbuhan terlemah sejak Januari. Meski demikian, Gubernur Federal Reserve, Lisa Cook, menegaskan bank sentral tetap siap menaikkan suku bunga apabila inflasi tidak terus melandai, mengingat ruang untuk menunda kebijakan semakin terbatas.
OPINI ANALIS TRAZE

Pergerakan Indeks Dolar AS (DXY) pada grafik 1 jam masih bergerak dalam tren turun dan sedang menguji area retracement Fibonacci 23,6%. Selama harga belum mampu menembus zona Golden Ratio 61,8% di sekitar 99,57, tekanan jual masih mendominasi. Struktur harga juga menunjukkan peluang terbentuknya pantulan sementara sebelum kembali melanjutkan pelemahan.
Secara teknikal, skenario utama masih mengarah ke penurunan menuju 99,17 sebagai target pertama, dengan potensi berlanjut ke 99,02 apabila tekanan jual semakin kuat. Namun, jika DXY berhasil menembus dan bertahan di atas area 99,57 – 99,75, peluang pembalikan arah menjadi lebih besar sehingga bias bearish perlu dievaluasi kembali.
DISCLAIMER
PT Traze Andalan Futures teregulasi oleh BAPPEBTI.
Materi ini untuk referensi saja dan bukan untuk rekomendasi melakukan transaksi. Seluruh transaksi yang
diambil sepenuhnya akan menjadi tanggung jawab nasabah. Transaksi Perdagangan Berjangka Komoditi
(PBK) memiliki peluang keuntungan dan risiko kerugian yang tinggi