Harga perak bergerak di sekitar US$64 per ons pada Jumat (11/09) setelah anjlok lebih dari 5% pada sesi sebelumnya. Tekanan muncul menjelang rilis data inflasi konsumen Amerika Serikat (CPI) yang menjadi perhatian utama pasar karena berpotensi memperkuat ekspektasi kenaikan suku bunga Federal Reserve pekan depan.
Kenaikan harga produsen AS pada Agustus turut memperkuat kekhawatiran inflasi, terutama setelah konflik AS-Iran mendorong biaya energi global lebih tinggi. Pasar kini memperkirakan peluang kenaikan suku bunga The Fed sebesar 25 basis poin mencapai sekitar 71%, naik dari 61% sebelum data PPI dirilis. Lonjakan harga minyak juga menambah tekanan terhadap perak karena dapat memperbesar risiko inflasi.
Di sisi lain, imbal hasil Treasury AS yang meningkat membuat aset tanpa bunga seperti perak menjadi kurang menarik bagi investor. Kondisi tersebut membuat harga perak berpotensi mencatat penurunan sekitar 4% sepanjang pekan ini sekaligus memperpanjang tren pelemahan selama tiga minggu berturut-turut.
OPINI ANALIS TRAZE

Pergerakan XAGUSD pada timeframe 30 menit menunjukkan sinyal positif setelah sukses menembus pola saluran turun lewat pembentukan struktur Break of Structure (BOS) serta Change of Character (CHoCH). Berdasarkan pemetaan Fibonacci Retracement, grafik harga saat ini bersiap menyambut fase koreksi sehat menuju Golden Ratio di kisaran 63.466 guna mengumpulkan momentum sebelum melesat mengejar target resisten pertama pada 64.520 dan target kedua di level 64.929.
Strategi trading yang optimal dapat memanfaatkan momen pantulan di zona tersebut untuk membuka posisi beli (long), dengan meletakkan batasan risiko (stop loss) di bawah garis invalidasi pada angka 63.014. Pendekatan terukur ini tidak hanya melindungi modal dari volatilitas pasar logam mulia, tetapi juga menyajikan rasio imbal hasil yang sangat ideal bagi pelaku pasar.