Harga minyak mentah bergerak menuju US$84 per barel pada Rabu (12/08) dan mencatat kenaikan selama lima sesi berturut-turut. Penguatan tersebut terjadi ketika investor mencermati perkembangan negosiasi antara Amerika Serikat dan Iran terkait pembukaan kembali Selat Hormuz. Menteri Pertahanan Pakistan menyebut kedua negara semakin dekat dengan sebuah kesepakatan, sementara pembicaraan Iran dan Oman dilaporkan telah memasuki tahap lanjutan.
Namun, optimisme tersebut masih dibayangi sikap keras Presiden Donald Trump terhadap Teheran. Trump menyatakan Iran harus membayar kompensasi atas korban serangan yang dikaitkan dengan Republik Islam tersebut, sebagai respons terhadap tuntutan Teheran terkait kompensasi perang atas operasi militer AS dan Israel. Situasi ini membuat prospek pasokan energi global tetap penuh ketidakpastian.
Di sisi lain, kenaikan persediaan minyak mentah AS menjadi tekanan bagi harga. Data industri menunjukkan stok domestik bertambah sekitar 9,1 juta barel dalam sepekan, sekaligus menjadi peningkatan terbesar sejak Februari. Jika tren penumpukan persediaan berlanjut, momentum bullish minyak dapat menghadapi hambatan meski risiko geopolitik masih memberikan dukungan.
OPINI ANALIS TRAZE

Pergerakan WTI pada timeframe H1 masih menunjukkan bias bullish setelah harga kembali bergerak di atas level Fibonacci 0% di sekitar US$82,96. Selama tekanan beli mampu dipertahankan, harga berpeluang melanjutkan kenaikan menuju US$83,66 sebagai target pertama. Struktur saat ini masih memberikan ruang bagi pembeli untuk menguji area resistance berikutnya.
Jika momentum berlanjut, sasaran berikutnya berada di US$84,56, bahkan terbuka peluang menuju US$85,55. Namun, koreksi tetap perlu diwaspadai. Area US$81,35 menjadi support penting, sedangkan penurunan di bawah US$80,36 dapat membatalkan skenario bullish dan membuka ruang pelemahan lebih dalam.
DISCLAIMER
PT Traze Andalan Futures teregulasi oleh BAPPEBTI.
Materi ini untuk referensi saja dan bukan untuk rekomendasi melakukan transaksi. Seluruh transaksi yang
diambil sepenuhnya akan menjadi tanggung jawab nasabah. Transaksi Perdagangan Berjangka Komoditi
(PBK) memiliki peluang keuntungan dan risiko kerugian yang tinggi