Harga minyak mentah menguat menuju US$103 per barel pada Selasa (15/09) setelah perdagangan awal pekan yang penuh gejolak. Investor masih mencermati risiko gangguan pasokan global, terutama setelah pipa East-West milik Arab Saudi yang menjadi jalur alternatif Selat Hormuz masih ditutup akibat serangan drone.
Ketegangan di kawasan Hormuz semakin meningkatkan kekhawatiran pasar. Pertemuan diplomatik Iran dengan negara-negara Teluk ditunda, sementara Iran mengklaim sebuah supertanker meledak setelah menabrak ranjau di area terbatas. Sikap Teheran yang belum bersedia berunding dengan AS turut memperbesar ketidakpastian geopolitik.
Dari Eropa Timur, peluang meredanya konflik energi masih belum pasti. Ukraina menyatakan siap menghentikan serangan terhadap target energi Rusia jika Moskow melakukan hal serupa, berbeda dengan klaim sebelumnya bahwa kedua pihak telah menyepakati penghentian serangan. Kondisi ini membuat minyak mentah tetap sensitif terhadap perkembangan geopolitik dan risiko pasokan.
OPINI ANALIS TRAZE

Secara teknikal, minyak mentah (WTI) masih menunjukkan bias bullish setelah mampu bertahan di atas area support 98,56 – 98,23. Struktur harga berpeluang melanjutkan kenaikan selama zona 97,71 tetap terjaga, dengan level tersebut menjadi area penting untuk mempertahankan momentum positif.
Jika tekanan beli berlanjut, US$99,08 menjadi resistance awal yang perlu ditembus untuk membuka peluang menuju US$99,69. Penembusan area tersebut dapat mengarahkan harga ke sekitar US$100,46, sedangkan pelemahan di bawah US$97,71 berpotensi mengubah struktur menjadi bearish dengan perhatian berikutnya pada US$96,86.
DISCLAIMER
PT Traze Andalan Futures teregulasi oleh BAPPEBTI.
Materi ini untuk referensi saja dan bukan untuk rekomendasi melakukan transaksi. Seluruh transaksi yang
diambil sepenuhnya akan menjadi tanggung jawab nasabah. Transaksi Perdagangan Berjangka Komoditi
(PBK) memiliki peluang keuntungan dan risiko kerugian yang tinggi