Harga minyak mentah bergerak di sekitar US$81 per barel pada Jumat (14/08) setelah melemah pada sesi sebelumnya. Investor memilih berhati-hati sambil menunggu perkembangan diplomasi terkait pembukaan kembali Selat Hormuz. Meski negosiasi masih menemui jalan buntu, arus pengiriman minyak dari kawasan Teluk Persia tetap berlangsung di tengah risiko keamanan yang belum mereda.
Aktivitas tanker masih berjalan, bahkan sebagian kapal dilaporkan mematikan transponder saat melintasi kawasan tersebut. Amerika Serikat memperkirakan hingga 9 juta barel minyak per hari masih melewati jalur strategis ini, sementara kemampuan pasukannya untuk mengawal kapal tanker terus diperluas. Kondisi tersebut membuat pasar tetap sensitif terhadap potensi gangguan pasokan.
Dari sisi permintaan, prospek minyak justru menghadapi tekanan. IEA memangkas proyeksi konsumsi global akibat konflik berkepanjangan dan harga energi yang tinggi. OPEC juga kembali menurunkan perkiraan pertumbuhan permintaan minyak dunia 2026 menjadi 580.000 barel per hari, sekaligus menjadi revisi turun keempat berturut-turut. Kondisi ini berpotensi membatasi ruang penguatan harga minyak ke depan.
OPINI ANALIS TRAZE

Pergerakan WTI pada timeframe H1 menunjukkan harga masih berkonsolidasi di sekitar area support US$80,32. Level ini berdekatan dengan zona Fibonacci 61,8% yang menjadi pijakan penting. Selama bertahan di atas area tersebut, peluang rebound masih terbuka dengan resistance awal US$81,82 sebagai target terdekat.
Jika momentum bullish menguat dan harga mampu menembus US$81,82, kenaikan berpotensi berlanjut menuju US$82,47. Sebaliknya, pelemahan di bawah US$80,32 dapat membuka ruang penurunan menuju US$79,39. Trader perlu memperhatikan respons harga di zona support dan resistance sebelum menentukan strategi.
DISCLAIMER
PT Traze Andalan Futures teregulasi oleh BAPPEBTI.
Materi ini untuk referensi saja dan bukan untuk rekomendasi melakukan transaksi. Seluruh transaksi yang
diambil sepenuhnya akan menjadi tanggung jawab nasabah. Transaksi Perdagangan Berjangka Komoditi
(PBK) memiliki peluang keuntungan dan risiko kerugian yang tinggi