Harga minyak WTI kembali menguat untuk dua sesi berturut-turut dan bergerak di sekitar US$85,60 per barel pada perdagangan Asia, Selasa (01/09). Kenaikan ini dipicu memanasnya kembali konflik di Timur Tengah yang meningkatkan kekhawatiran terhadap kelancaran pasokan energi. Ancaman terhadap jalur distribusi membuat pasar minyak kembali menghadapi risiko gangguan pasokan.
Situasi semakin tegang setelah serangan AS terhadap peluncur roket Iran di Pulau Larak dibalas dengan serangan Teheran ke sejumlah target di Uni Emirat Arab dan Yordania. Ancaman terhadap Pulau Kharg, salah satu pusat ekspor minyak Iran, turut memperbesar kecemasan pasar. Risiko di Selat Hormuz juga meningkat setelah sebuah supertanker terbakar akibat menabrak ranjau laut, meski arus minyak dari negara-negara Teluk masih berlangsung secara terbatas.
Di sisi lain, serangan drone dan rudal terhadap fasilitas penyulingan Rusia ikut menekan kapasitas produksi bahan bakar global. Kondisi tersebut mendorong margin produk olahan ke level tertinggi, sementara klaim adanya kesepakatan minyak antara AS dan Venezuela menambah ketidakpastian baru. Minimnya detail mengenai pelaksanaan kesepakatan membuat investor masih berhati-hati dalam menilai apakah tambahan pasokan benar-benar mampu meredakan tekanan harga energi.
OPINI ANALIS TRAZE
Pergerakan harga minyak WTI bergerak di sekitar $85,70 dan masih menunjukkan struktur bullish setelah bertahan di atas area Fibonacci 23,6% di $85,48. Selama level tersebut mampu dipertahankan, momentum kenaikan berpeluang berlanjut dengan target terdekat $86,21, kemudian $86,71.
Namun, koreksi tetap perlu diwaspadai. Penurunan menuju area $84,94 masih tergolong sehat selama tidak menembus $84,39 sebagai level invalidasi support. Jika zona tersebut bertahan, peluang rebound harga minyak menuju target bullish kembali terbuka.
DISCLAIMER
PT Traze Andalan Futures teregulasi oleh BAPPEBTI.
Materi ini untuk referensi saja dan bukan untuk rekomendasi melakukan transaksi. Seluruh transaksi yang
diambil sepenuhnya akan menjadi tanggung jawab nasabah. Transaksi Perdagangan Berjangka Komoditi
(PBK) memiliki peluang keuntungan dan risiko kerugian yang tinggi