Harga minyak mentah turun di bawah US$82 per barel pada Kamis (27/08), memperpanjang pelemahan untuk sesi keempat berturut-turut. Tekanan datang dari tanda-tanda kemajuan diplomatik di Timur Tengah setelah Iran dan Oman mencapai kesepakatan terkait pembagian wilayah perairan serta pendapatan di sekitar Selat Hormuz.
Sentimen negatif semakin kuat setelah Presiden Donald Trump menyebut sekitar 10 juta barel minyak telah melewati Selat Hormuz pada Selasa dan mengklaim ranjau di jalur strategis tersebut telah dibersihkan. Selain itu, sanksi ekonomi terbaru Amerika Serikat terhadap Iran dinilai tidak sekeras perkiraan pasar, sementara mitra dagang Tehran sejauh ini masih terhindar dari tekanan yang lebih berat.
Meski risiko gangguan pasokan mulai mereda, pasar energi tetap menghadapi ketidakpastian geopolitik. Rencana Rusia untuk meningkatkan eskalasi di Ukraina turut menjaga kekhawatiran terhadap pasokan global, sehingga arah harga minyak berikutnya masih akan sangat dipengaruhi perkembangan Timur Tengah dan konflik Rusia-Ukraina.
OPINI ANALIS TRAZE

Secara teknikal, WTI Oil masih berada dalam tekanan bearish setelah gagal mempertahankan momentum kenaikan dan kembali bergerak di sekitar US$81,40. Harga saat ini memasuki area koreksi US$81,46 – US$82,15, yang menjadi zona penting untuk menguji kekuatan seller. Selama belum mampu menembus US$82,84, peluang harga berbalik melemah masih terbuka.
Jika tekanan jual kembali muncul, US$80,53 menjadi target penurunan pertama, diikuti US$79,91 sebagai target berikutnya. Sebaliknya, penembusan kuat di atas US$82,84 dapat membatalkan skenario bearish dan membuka ruang menuju US$83,96. Trader perlu mencermati respons harga di zona koreksi untuk menentukan arah berikutnya.
DISCLAIMER
PT Traze Andalan Futures teregulasi oleh BAPPEBTI.
Materi ini untuk referensi saja dan bukan untuk rekomendasi melakukan transaksi. Seluruh transaksi yang
diambil sepenuhnya akan menjadi tanggung jawab nasabah. Transaksi Perdagangan Berjangka Komoditi
(PBK) memiliki peluang keuntungan dan risiko kerugian yang tinggi