Harga emas kembali menguat pada perdagangan Kamis (27/08) dan bergerak mendekati level US$4.650 per ounce, setelah berhasil memangkas sebagian besar penurunan pada sesi sebelumnya. Pergerakan ini terjadi karena pelaku pasar masih mencermati arah kebijakan suku bunga Federal Reserve (The Fed) menjelang pertemuan penting bulan depan.
Sentimen pasar dipengaruhi oleh data inflasi Amerika Serikat yang menunjukkan indeks PCE pada Juli naik lebih tinggi dari perkiraan dan masih berada di atas target The Fed. Kondisi tersebut memperkuat ekspektasi bahwa bank sentral AS akan tetap berhati-hati dalam menentukan kebijakan moneternya. Fokus investor kini tertuju pada pidato Ketua The Fed, Kevin Warsh, dalam simposium tahunan Jackson Hole yang dijadwalkan berlangsung Jumat.
Di sisi lain, harga emas tetap bertahan di dekat level tertinggi dalam tiga bulan terakhir karena meningkatnya permintaan aset lindung nilai. Kekhawatiran terhadap potensi krisis utang Amerika Serikat serta pelemahan dolar AS mendorong minat investor terhadap logam mulia. Selain itu, impor bersih emas China melalui Hong Kong pada Juli tercatat naik sekitar 11% dibanding bulan sebelumnya, didukung oleh permintaan investasi yang semakin kuat.
OPINI ANALIS TRAZE

Secara teknikal, XAU/USD mulai menunjukkan pemulihan setelah memantul dari area support US$4.582 dan kembali bergerak di atas US$4.620. Struktur harga mengindikasikan peluang bullish selama level US$4.606 tetap bertahan sebagai support kunci. Jika momentum beli berlanjut, emas berpotensi menguji US$4.660 sebagai target pertama, kemudian US$4.681.
Namun, tekanan jual masih perlu diwaspadai jika harga gagal mempertahankan area US$4.606. Penurunan di bawah level tersebut dapat membuka ruang koreksi menuju US$4.583 sebagai support utama sekaligus batas invalidasi skenario bullish. Selama harga mampu bertahan di atas zona tersebut, bias XAU/USD masih cenderung positif dengan peluang mengarah kembali ke area US$4.700.
DISCLAIMER
PT Traze Andalan Futures teregulasi oleh BAPPEBTI.
Materi ini untuk referensi saja dan bukan untuk rekomendasi melakukan transaksi. Seluruh transaksi yang
diambil sepenuhnya akan menjadi tanggung jawab nasabah. Transaksi Perdagangan Berjangka Komoditi
(PBK) memiliki peluang keuntungan dan risiko kerugian yang tinggi