Harga minyak mentah WTI bertahan di atas US$82 per barel setelah mencatat kenaikan selama tiga sesi berturut-turut. Penguatan ini didorong meningkatnya ketidakpastian terkait kesepakatan AS–Iran untuk mengakhiri konflik dan membuka kembali Selat Hormuz, jalur penting bagi perdagangan minyak global.
Situasi semakin rumit setelah Presiden Donald Trump mengajukan tuntutan baru kepada Iran, termasuk kompensasi bagi pihak yang terdampak konflik. Sikap tersebut membuat peluang tercapainya kesepakatan dalam waktu dekat semakin suram, sehingga pasar kembali mengantisipasi risiko gangguan pasokan minyak yang berkepanjangan.
Di sisi lain, Iran dan Oman belum mencapai kesepakatan untuk membuka kembali Selat Hormuz. Tehran bahkan mensyaratkan tercapainya perjanjian dengan Washington terlebih dahulu. Selama jalur tersebut masih terhambat, harga crude oil berpeluang tetap mendapat dukungan, meski perkembangan diplomasi AS–Iran akan menjadi kunci arah pergerakan berikutnya.
OPINI ANALIS TRAZE

Secara teknikal, WTI Crude Oil pada chart M15 masih menunjukkan struktur bullish setelah membentuk rangkaian higher low. Harga berada di sekitar US$82,16 dan sedang menguji area resistance US$82,17 – 82,20. Jika mampu menembus level tersebut dengan candle yang kuat, momentum kenaikan berpotensi berlanjut menuju US$81,92 dan area target sekitar US$82,17.
Skenario bullish menjadi lebih menarik apabila terjadi breakout di atas US$81,70, sesuai area buy menanti breakout pada chart. Sebaliknya, kegagalan menembus resistance dapat memicu koreksi menuju US$81,52 – 81,20. Level US$81,20 menjadi batas penting; selama harga bertahan di atasnya, bias naik masih terjaga dan peluang menuju target atas tetap terbuka.
DISCLAIMER
PT Traze Andalan Futures teregulasi oleh BAPPEBTI.
Materi ini untuk referensi saja dan bukan untuk rekomendasi melakukan transaksi. Seluruh transaksi yang
diambil sepenuhnya akan menjadi tanggung jawab nasabah. Transaksi Perdagangan Berjangka Komoditi
(PBK) memiliki peluang keuntungan dan risiko kerugian yang tinggi