Harga emas bergerak di sekitar US$4.460 per troy ounce pada Senin (31/08) setelah anjlok lebih dari 3% pada sesi sebelumnya. Tekanan datang dari pernyataan hawkish Ketua Federal Reserve Kevin Warsh yang kembali memperkuat ekspektasi kenaikan suku bunga dalam waktu dekat.
Dalam pidatonya di Jackson Hole, Warsh menilai inflasi AS belum menunjukkan penurunan yang signifikan dan menegaskan komitmen The Fed untuk mengembalikannya ke target 2%. Pasar kini memperkirakan peluang kenaikan suku bunga 25 basis poin pada September mencapai sekitar 57%, naik dari 40% sepekan sebelumnya. Kondisi tersebut membuat daya tarik emas sebagai aset tanpa imbal hasil kembali tertekan.
Selain kebijakan moneter, kenaikan harga minyak turut membebani pergerakan logam mulia setelah militer AS menyerang peluncur roket Iran yang diduga bersiap memasang ranjau di Selat Hormuz. Meski begitu, emas masih berpeluang mencatat kenaikan lebih dari 10% sepanjang Agustus, didukung kuatnya permintaan sebagai aset lindung nilai di tengah kekhawatiran pelemahan nilai mata uang.
OPINI ANALIS TRAZE
Pergerakan harga XAU/USD pada timeframe 15 menit masih menunjukkan tekanan bearish setelah menembus struktur Break of Structure (BOS). Selama pergerakan tertahan di bawah area koreksi US$4.456, peluang penurunan tetap terbuka dengan US$4.418 sebagai target pertama.
Jika tekanan jual berlanjut, harga berpotensi menguji US$4.401 sebagai target berikutnya. Skenario bearish ini menjadi tidak valid apabila XAU/USD mampu menembus resistance US$4.472, yang dapat membuka ruang bagi pemulihan lebih lanjut.
DISCLAIMER
PT Traze Andalan Futures teregulasi oleh BAPPEBTI.
Materi ini untuk referensi saja dan bukan untuk rekomendasi melakukan transaksi. Seluruh transaksi yang
diambil sepenuhnya akan menjadi tanggung jawab nasabah. Transaksi Perdagangan Berjangka Komoditi
(PBK) memiliki peluang keuntungan dan risiko kerugian yang tinggi