Emas Kehilangan Status Safe Haven
Harga emas (XAU/USD) mengalami pergerakan yang sangat tajam sepanjang semester I 2026. Pada Januari hingga Februari, emas melonjak lebih dari 20% dan mencetak rekor tertinggi di dekat US$5.600. Namun, sejak Maret hingga akhir kuartal II, harganya berbalik turun hampir 30%. Memasuki semester II, pasar kini menantikan apakah emas mampu bangkit kembali atau justru mencatatkan kinerja tahunan terburuk sejak 2013.
Pada awal tahun, reli emas didorong oleh ekspektasi bahwa Federal Reserve akan lebih longgar dalam kebijakan moneternya. Meningkatnya peluang Kevin Warsh menggantikan Jerome Powell sebagai Ketua The Fed membuat imbal hasil obligasi AS dan dolar AS melemah, sehingga mendukung kenaikan harga emas.
Di saat yang sama, ketegangan geopolitik di Timur Tengah juga meningkatkan permintaan terhadap emas sebagai aset safe haven. Ancaman intervensi militer AS terhadap Iran membuat investor mencari aset yang dianggap lebih aman.
Namun, pada akhir Januari harga emas sempat terkoreksi meski masih mencatat kenaikan bulanan sekitar 13%. Setelah Kevin Warsh resmi dicalonkan, pasar menerapkan strategi buy the rumor, sell the fact. Investor juga mulai menilai bahwa Warsh cenderung mendukung kebijakan moneter yang ketat sehingga belum tentu akan mengikuti keinginan Presiden Donald Trump untuk memangkas suku bunga.
Momentum positif kembali berlanjut pada Februari karena banyak investor memanfaatkan koreksi harga untuk membeli emas. World Gold Council (WGC) melaporkan bahwa ETF emas global kembali mencatat arus dana masuk sebesar US$5,3 miliar, menjadi awal tahun terkuat dalam setahun terakhir dan menandai sembilan bulan berturut-turut terjadi aliran dana positif.
Situasi berubah drastis setelah Israel dan Amerika Serikat melancarkan operasi militer terhadap Iran pada 28 Februari.
Sejak saat itu, emas mulai kehilangan daya tarik sebagai aset safe haven. Lonjakan harga minyak memicu kekhawatiran inflasi yang lebih tinggi sehingga pasar memperkirakan kebijakan suku bunga akan tetap ketat. Akibatnya, harga emas turun hampir 12% pada Maret, lalu bergerak relatif stabil namun masih melemah pada April dan Mei.
Kesepakatan gencatan senjata sementara antara AS dan Iran pada awal April sempat membantu menahan penurunan emas. Namun, meskipun kedua negara kemudian menandatangani Memorandum of Understanding (MoU) pada pertengahan Juni dan membuka kembali Selat Hormuz, harga emas tetap tertekan.
Tekanan semakin besar setelah data inflasi dan pasar tenaga kerja AS menunjukkan hasil yang kuat. Ketua The Fed, Kevin Warsh, juga menegaskan bahwa pengendalian inflasi tetap menjadi prioritas utama. Kondisi ini meningkatkan ekspektasi kenaikan suku bunga dan mendorong XAU/USD turun ke bawah level US$4.000, menjadi titik terendah sepanjang 2026.

Tiga Skenario Pergerakan Emas pada Semester II 2026
Pergerakan emas pada semester pertama menunjukkan bahwa faktor fundamental kini lebih dominan dibandingkan sentimen geopolitik. Karena itu, investor perlu memperhatikan perkembangan inflasi, arah kebijakan bank sentral, serta permintaan dari investor institusi untuk menentukan arah harga emas pada semester kedua.
Skenario Bullish
Agar emas kembali menguat, pasar membutuhkan perubahan besar pada sentimen global. Penurunan harga minyak saja tidak cukup untuk mendorong reli. Yang lebih penting adalah munculnya sinyal bahwa bank-bank sentral, khususnya The Fed, mulai bersikap lebih dovish.
Syarat pertama adalah berakhirnya konflik Timur Tengah secara permanen. Jika risiko gangguan pasokan energi benar-benar mereda, kekhawatiran terhadap lonjakan harga minyak juga akan berkurang.
Selanjutnya, inflasi AS perlu menunjukkan penurunan secara konsisten selama beberapa bulan. Jika The Fed mulai yakin inflasi kembali menuju target 2%, pasar dapat beralih dari ekspektasi kenaikan suku bunga menjadi peluang penurunan suku bunga pada awal 2027. Kondisi ini berpotensi menekan imbal hasil obligasi dan melemahkan dolar AS, sehingga menjadi katalis positif bagi emas.
Saat ini, CME FedWatch Tool masih menunjukkan peluang sekitar 85% bahwa The Fed akan menaikkan suku bunga setidaknya 25 basis poin sebelum akhir 2026.
Selain itu, pemilu paruh waktu AS juga berpotensi menjadi faktor pendukung. Jika hasil pemilu meningkatkan ketidakpastian politik, investor kemungkinan kembali mencari aset aman seperti emas.

Skenario Bearish
Sebaliknya, emas berpotensi melanjutkan pelemahan apabila inflasi tetap tinggi. Konflik Timur Tengah yang berkepanjangan dan kenaikan harga energi menjelang musim dingin dapat kembali mendorong inflasi.
Dalam kondisi tersebut, The Fed kemungkinan mempertahankan sikap hawkish bahkan menaikkan suku bunga lebih dari satu kali. Ekonomi AS yang tetap kuat serta pasar tenaga kerja yang solid juga akan semakin memperkuat kebijakan tersebut.
Meski harga minyak turun, inflasi masih bisa bertahan tinggi karena meningkatnya investasi besar-besaran pada sektor kecerdasan buatan (Artificial Intelligence/AI). Gubernur The Fed, Lisa Cook, menjelaskan bahwa pembangunan infrastruktur AI telah meningkatkan permintaan terhadap chip, perangkat teknologi, perangkat lunak, dan utilitas sehingga ikut mendorong kenaikan harga.
Jika skenario ini terjadi, ruang penurunan emas memang masih terbuka. Namun, permintaan jangka panjang dari bank sentral dan investor institusi diperkirakan tetap menjadi penyangga yang membatasi penurunan lebih dalam.
World Gold Council juga menilai bahwa semakin banyak bank sentral, dana pensiun, sovereign wealth fund, dan investor jangka panjang yang terus menambah kepemilikan emas sebagai bagian dari strategi diversifikasi aset.
Skenario Netral
Pada skenario ini, inflasi AS masih bertahan tetapi tidak semakin tinggi, sementara pertumbuhan ekonomi mulai melambat. Kondisi tersebut membuat The Fed memilih menahan suku bunga lebih lama.
Di sisi geopolitik, konflik Timur Tengah belum benar-benar berakhir, tetapi tetap terkendali melalui gencatan senjata sementara dan jalur diplomasi. Situasi ini membuat harga minyak relatif stabil sehingga tekanan inflasi juga tidak meningkat tajam.
Dalam kondisi tersebut, harga emas berpeluang bergerak dalam fase konsolidasi tanpa tren naik maupun turun yang dominan.
Pandangan Penulis
Dari ketiga skenario tersebut, peluang terjadinya penurunan tajam kembali tampaknya relatif lebih kecil. Permintaan jangka panjang dari bank sentral dan investor institusi diperkirakan akan meningkat setiap kali harga emas mengalami koreksi yang cukup dalam.
Berbeda dengan tahun 2013, pembelian emas oleh bank sentral kini jauh lebih merata. Menurut World Gold Council, pembelian bersih bank sentral pada kuartal I 2026 mencapai 244 ton, dan sejumlah negara seperti Indonesia, Malaysia, serta Guatemala mulai kembali menambah cadangan emas mereka.
Fenomena masuknya bank-bank sentral baru ke pasar emas menunjukkan bahwa diversifikasi cadangan devisa masih terus berlangsung. Faktor ini berpotensi menjadi penopang harga emas sepanjang semester II 2026.
Dengan mempertimbangkan kondisi tersebut, skenario yang paling realistis adalah emas bergerak dalam fase konsolidasi dengan peluang rebound secara bertahap apabila tekanan inflasi mulai mereda dan The Fed mengurangi sikap hawkish.
Pandangan Para Analis
TD Securities menilai kenaikan biaya energi dapat meningkatkan peluang kenaikan suku bunga The Fed sehingga memberikan tekanan terhadap emas dan perak. Mereka juga melihat investor mulai mengurangi posisi beli pada kedua logam mulia tersebut.
Commerzbank berpendapat arah emas lebih banyak ditentukan oleh perubahan ekspektasi kebijakan The Fed daripada perkembangan geopolitik. Jika pasar mulai mengurangi ekspektasi kenaikan suku bunga, emas berpotensi kembali menguat.
BNY Mellon mencatat semakin banyak bank sentral yang mengurangi ketergantungan terhadap dolar AS dan meningkatkan kepemilikan emas sebagai bagian dari strategi diversifikasi cadangan devisa.
Sementara itu, OCBC menurunkan proyeksi harga emas akhir 2026 menjadi sekitar US$4.360 per ounce. Bank tersebut menilai penguatan dolar AS, tingginya imbal hasil riil, serta sikap hawkish The Fed masih menjadi tantangan utama bagi pergerakan emas dalam jangka pendek.
DISCLAIMER
PT Traze Andalan Futures teregulasi oleh BAPPEBTI.
Materi ini untuk referensi saja dan bukan untuk rekomendasi melakukan transaksi. Seluruh transaksi yang
diambil sepenuhnya akan menjadi tanggung jawab nasabah. Transaksi Perdagangan Berjangka Komoditi
(PBK) memiliki peluang keuntungan dan risiko kerugian yang tinggi