Lonjakan harga minyak dalam beberapa pekan terakhir sempat mendorong pasar memperkirakan Federal Reserve (The Fed) akan kembali menaikkan suku bunga. Namun, data inflasi AS bulan Juni yang lebih rendah dari perkiraan, ditambah pelemahan pasar tenaga kerja, membuat tekanan untuk segera mengetatkan kebijakan mulai berkurang. Karena itu, The Fed diperkirakan akan mempertahankan suku bunga pada pertemuan FOMC tanggal 28 – 29 Juli 2026.
Inflasi Melandai, Alasan The Fed Belum Bergerak
Pertemuan FOMC bulan Juni menunjukkan bahwa The Fed tetap berkomitmen menjaga stabilitas harga, sekaligus meredakan kekhawatiran mengenai potensi campur tangan politik setelah Kevin Warsh menjabat sebagai Ketua The Fed. Meski demikian, proyeksi ekonomi terbaru memperlihatkan para pejabat The Fed masih terbelah mengenai perlunya kenaikan suku bunga hingga akhir tahun.
Sebelumnya, pasar memperkirakan peluang sekitar 80% untuk kenaikan suku bunga sebesar 25 basis poin. Bahkan, ekspektasi sempat meningkat menjadi sekitar satu setengah kali kenaikan. Namun, data inflasi yang lebih lemah, inflasi produsen (PPI) yang terkendali, serta Beige Book The Fed yang menunjukkan tekanan harga mulai mereda, membuat urgensi kenaikan suku bunga berkurang.
Di sisi lain, kondisi pasar tenaga kerja juga mulai melemah. Nonfarm Payrolls (NFP) bulan Juni hanya bertambah 57.000 pekerjaan, jauh di bawah rata-rata kenaikan 164.000 dalam tiga bulan sebelumnya. Dengan kombinasi inflasi yang melandai dan pertumbuhan lapangan kerja yang melemah, peluang terbesar saat ini adalah The Fed mempertahankan kebijakan moneternya. Walaupun beberapa anggota FOMC masih memperkirakan kenaikan suku bunga pada Desember, sebagian besar diperkirakan bukan merupakan anggota yang memiliki hak suara tahun ini.
Arah Kebijakan Masih Bergantung pada Harga Minyak

Perkembangan konflik di Timur Tengah tetap menjadi faktor utama yang dapat mengubah arah kebijakan The Fed. Kenaikan harga minyak telah mendorong pasar kembali memperkirakan suku bunga akan bertahan tinggi lebih lama. Dalam sepekan terakhir, ekspektasi kenaikan suku bunga pada awal 2027 meningkat sekitar 20 basis poin akibat lonjakan harga energi.
Meski begitu, pandangan tersebut belum tentu sepenuhnya tepat. Harga bensin di AS belum mengikuti pergerakan harga minyak secara penuh. Secara historis, harga minyak saat ini masih sejalan dengan harga bensin sedikit di atas US$4 per galon. Sementara itu, harga gas alam di AS tetap stabil berkat pasokan domestik yang melimpah, sehingga tekanan inflasi dari sektor energi dinilai belum cukup besar untuk memicu lonjakan inflasi baru.
Apabila ketegangan geopolitik mereda dan pasokan energi kembali normal, harga minyak berpotensi turun tajam sehingga ekspektasi kenaikan suku bunga juga akan melemah. Sebaliknya, jika konflik semakin memburuk misalnya gangguan pasokan di Laut Merah semakin meluas harga minyak dapat melonjak hingga mendekati US$120 per barel. Kondisi tersebut berpotensi mendorong inflasi kembali meningkat dan memaksa The Fed menaikkan suku bunga.
Untuk saat ini, skenario yang lebih mungkin adalah terjadinya deeskalasi konflik. Selain itu, perlambatan biaya perumahan, pertumbuhan upah yang lebih moderat, serta normalisasi rantai pasok diperkirakan akan terus membantu menekan tekanan inflasi. Namun, pasar tetap membutuhkan kepastian mengenai perkembangan situasi di Timur Tengah sebelum mengubah ekspektasi terhadap kebijakan The Fed.
Dolar AS Masih Berpotensi Tetap Kuat

Sejak konferensi pers pertama Kevin Warsh sebagai Ketua The Fed, dolar AS terus menguat terhadap mayoritas mata uang utama. Yen Jepang, franc Swiss, dan krona Swedia melemah sekitar 2%, sementara beberapa mata uang Eropa Timur bahkan terkoreksi hingga 3 – 4%. Penguatan dolar tidak hanya dipicu oleh kenaikan harga minyak, tetapi juga oleh meningkatnya ekspektasi bahwa suku bunga AS akan tetap tinggi.
Di tengah minimnya petunjuk mengenai arah kebijakan berikutnya, investor cenderung mempertahankan posisi beli dolar menjelang hasil rapat FOMC. Pasar juga masih menunggu apakah The Fed akan menganggap kenaikan imbal hasil obligasi pemerintah AS tenor 30 tahun hingga sekitar 5,20% sebagai alasan untuk mempertimbangkan pengetatan kebijakan lebih lanjut.
Diperkirakan The Fed tetap akan menghindari memberikan panduan yang jelas mengenai langkah berikutnya. Sikap tersebut kemungkinan tidak akan mengubah ekspektasi pasar yang saat ini masih melihat peluang kenaikan suku bunga sebesar 25 basis poin pada pertemuan September.
Selama konflik di Timur Tengah belum mereda dan harga energi masih bertahan tinggi, dolar AS diperkirakan tetap berada dalam tren penguatan. Dalam skenario tersebut, EUR/USD berpotensi kembali menguji area 1,13, sedangkan USD/JPY berpeluang bergerak menuju level 165. Sementara itu, mata uang dengan imbal hasil rendah dan aset berisiko di pasar negara berkembang juga diperkirakan masih akan menghadapi tekanan.
Opini Analis Teknikal Emas

Pergerakan harga emas (XAU/USD) masih bergerak di dalam pola descending channel dan saat ini sedang menguji area resistance dinamis di sekitar 4.090 – 4.100. Setelah memantul dari garis tren naik, momentum beli mulai kembali terlihat. Jika mampu menembus resistance terdekat, emas berpeluang melanjutkan kenaikan menuju area 4.145 – 4.150 yang bertepatan dengan batas atas channel.
Di sisi lain, perhatian tetap tertuju pada area support 4.022,563. Selama level tersebut tidak ditembus, peluang penguatan masih lebih dominan. Namun, apabila harga turun dan menembus support itu, skenario bullish akan batal sehingga tekanan jual berpotensi membawa emas kembali menguji area support yang lebih rendah di dalam channel.
DISCLAIMER
PT Traze Andalan Futures teregulasi oleh BAPPEBTI.
Materi ini untuk referensi saja dan bukan untuk rekomendasi melakukan transaksi. Seluruh transaksi yang
diambil sepenuhnya akan menjadi tanggung jawab nasabah. Transaksi Perdagangan Berjangka Komoditi
(PBK) memiliki peluang keuntungan dan risiko kerugian yang tinggi