Pasar keuangan global memasuki pekan yang penuh perhatian. Investor kini menyoroti arah suku bunga global dan imbal hasil obligasi pemerintah jangka panjang, terutama di tengah lonjakan harga energi, peningkatan belanja defisit, serta derasnya penerbitan utang korporasi. Kebijakan moneter Federal Reserve juga menjadi sorotan menjelang berbagai pernyataan pejabat FOMC dalam Simposium Jackson Hole. Di sisi lain, laporan keuangan Nvidia akan menjadi barometer penting untuk mengukur kekuatan permintaan teknologi kecerdasan buatan atau AI, di tengah optimisme pertumbuhan yang mulai berhadapan dengan kekhawatiran mengenai besarnya investasi infrastruktur.
Sejumlah data ekonomi Amerika Serikat juga berpotensi meningkatkan volatilitas pasar, termasuk data pendapatan dan belanja pribadi, inflasi PCE, pesanan barang tahan lama Juli, serta revisi tahunan data tenaga kerja nonfarm payrolls. Hasil dari berbagai indikator tersebut akan menjadi bahan pertimbangan investor dalam membaca langkah Federal Reserve selanjutnya, terutama terkait arah suku bunga dan prospek ekonomi AS.

Di tengah situasi tersebut, harga emas melanjutkan performa gemilang pada perdagangan Asia hari Senin dengan kembali memperbarui level tertinggi dalam tiga bulan dan bergerak di atas $4.600. Penguatan logam mulia didukung oleh pelemahan Dolar AS yang masih berlanjut, setelah muncul rencana pembelian kembali obligasi pemerintah AS oleh Departemen Keuangan. Ketegangan perdagangan antara Amerika Serikat dan Kanada juga ikut meningkatkan minat investor terhadap aset safe haven seperti emas.
Indeks Dolar AS bertahan di sekitar 98,8 setelah mengalami penurunan tajam pada pekan sebelumnya. Kenaikan signifikan imbal hasil obligasi Treasury memicu kekhawatiran mengenai beban utang pemerintah AS yang terus meningkat, sehingga mengurangi daya tarik mata uang Negeri Paman Sam. Menteri Keuangan AS, Scott Bessent, juga mengungkapkan strategi pembelian kembali obligasi jangka panjang yang disebut sebagai “Treasury Twist”, dengan tujuan memengaruhi kurva imbal hasil dan membantu mengelola biaya pinjaman pemerintah.
Selain faktor ekonomi, investor masih mencermati perkembangan geopolitik di Timur Tengah, termasuk rencana AS untuk mengumumkan sanksi baru terhadap Iran. Kombinasi ketidakpastian geopolitik, tekanan terhadap Dolar AS, kekhawatiran utang pemerintah, serta spekulasi kebijakan Federal Reserve berpotensi menjaga minat terhadap emas. Ke depan, pergerakan harga logam mulia akan sangat dipengaruhi oleh data inflasi PCE dan sinyal kebijakan dari Federal Reserve dalam Simposium Jackson Hole.
Analisa Teknikal XAU/USD: XAUUSD pada grafik H4 masih menunjukkan tren bullish

XAUUSD pada grafik H4 masih menunjukkan tren bullish setelah harga mencetak kenaikan kuat dari demand zone. Saat ini, emas sedang mengalami koreksi menuju area Fibonacci sebelum berpotensi melanjutkan penguatan. Selama harga bertahan di atas support penting sekitar 4.528 hingga 4.480, peluang kenaikan masih cukup terbuka.
Jika tekanan beli kembali muncul, XAUUSD berpotensi melanjutkan pergerakan menuju area 4.655 dan target berikutnya di sekitar 4.734. Namun, apabila harga turun menembus demand zone di area 4.312, skenario bullish dapat melemah dan membuka peluang koreksi lebih dalam. Trader sebaiknya menunggu konfirmasi harga sebelum menentukan posisi.
DISCLAIMER
PT Traze Andalan Futures teregulasi oleh BAPPEBTI.
Materi ini untuk referensi saja dan bukan untuk rekomendasi melakukan transaksi. Seluruh transaksi yang
diambil sepenuhnya akan menjadi tanggung jawab nasabah. Transaksi Perdagangan Berjangka Komoditi
(PBK) memiliki peluang keuntungan dan risiko kerugian yang tinggi