Harga minyak mentah kembali menanjak menembus US$85 per barel pada Selasa (18/08), melanjutkan penguatan untuk sesi ketiga berturut-turut. Kenaikan ini dipicu melemahnya peluang tercapainya kesepakatan baru antara Amerika Serikat dan Iran setelah Presiden Donald Trump menyatakan tidak berminat memperpanjang perjanjian damai sementara.
Kesepakatan yang ditandatangani pada Juni tersebut resmi berakhir pada Senin setelah masa negosiasi 60 hari selesai. Di sisi lain, Iran dan Oman masih membahas pengaturan lalu lintas kapal di Selat Hormuz, jalur strategis bagi perdagangan energi global, meski Amerika Serikat tidak terlibat dalam perundingan tersebut.
Washington berpotensi menolak kesepakatan yang tidak menjamin akses bebas melalui Selat Hormuz. Sementara itu, produsen minyak Timur Tengah semakin aktif mencari jalur alternatif untuk menyalurkan pasokan ke pasar global, sehingga perkembangan geopolitik dan keamanan jalur pelayaran tetap menjadi faktor penting bagi arah harga minyak mentah.
OPINI ANALIS TRAZE

Pergerakan harga USOIL masih menunjukkan momentum bullish setelah bertahan di area 83,35 – 83,89. Harga saat ini sekitar 83,89 dan berpeluang melanjutkan kenaikan jika mampu menembus resistance 84,09, dengan target berikutnya di 84,71 hingga 85,09. Pola pergerakan yang menguat juga sejalan dengan tekanan beli yang masih terlihat pada pasar minyak.
Dari sisi risiko, area 83,35 menjadi support sekaligus level invalidasi yang penting. Selama harga bertahan di atas zona tersebut, peluang kenaikan tetap terbuka menuju target 84,71 – 85,09. Sebaliknya, penurunan di bawah 83,35 dapat memicu koreksi lebih dalam dan mengubah momentum jangka pendek menjadi bearish.
DISCLAIMER
PT Traze Andalan Futures teregulasi oleh BAPPEBTI.
Materi ini untuk referensi saja dan bukan untuk rekomendasi melakukan transaksi. Seluruh transaksi yang
diambil sepenuhnya akan menjadi tanggung jawab nasabah. Transaksi Perdagangan Berjangka Komoditi
(PBK) memiliki peluang keuntungan dan risiko kerugian yang tinggi