Harga minyak mentah menguat menuju US$92 per barel pada Senin (07/09), melanjutkan kenaikan pekan lalu di tengah meningkatnya ketegangan antara Amerika Serikat dan Iran. Saling serang di kawasan Timur Tengah memicu kekhawatiran terhadap gangguan pasokan energi, terutama jalur perdagangan strategis di sekitar Selat Hormuz.
AS menyerang tiga kapal tanker minyak Iran sebagai respons atas serangan rudal balistik terhadap kapal perang Angkatan Laut AS. Iran kemudian membalas dengan menargetkan kapal tanker dan sejumlah kapal yang terkait dengan AS, serta berencana memberlakukan zona maritim “terbatas” di luar Selat Hormuz dalam beberapa hari mendatang.
Risiko gangguan distribusi semakin besar setelah AS menegaskan akan mempertahankan kehadiran militernya di Timur Tengah dan melanjutkan blokade untuk membatasi ekspor minyak Iran. Konflik yang kembali memanas setelah sekitar sebulan relatif tenang telah mendorong harga minyak naik sekitar 10%, seiring pasar meningkatkan premi risiko geopolitik dan kekhawatiran terhadap pasokan global.
OPINI ANALIS TRAZE

Harga WTI Oil pada grafik 1 jam menunjukkan momentum bullish setelah berhasil memantul dari area demand di sekitar 87,982 – 88,686. Saat ini harga bergerak mendekati 90,929, menandakan tekanan beli masih cukup kuat. Selama harga mampu bertahan di atas area koreksi tersebut, peluang melanjutkan kenaikan tetap terbuka.
Jika momentum positif berlanjut, WTI berpotensi menguji 90,356 hingga 90,916 sebagai area target berikutnya. Sebaliknya, pelemahan yang menembus 88,686 dapat membuka ruang koreksi lebih dalam menuju 87,982 sebagai level invalidasi bullish.
DISCLAIMER
PT Traze Andalan Futures teregulasi oleh BAPPEBTI.
Materi ini untuk referensi saja dan bukan untuk rekomendasi melakukan transaksi. Seluruh transaksi yang
diambil sepenuhnya akan menjadi tanggung jawab nasabah. Transaksi Perdagangan Berjangka Komoditi
(PBK) memiliki peluang keuntungan dan risiko kerugian yang tinggi