Indeks dolar AS bergerak turun ke kisaran 101 pada perdagangan Kamis (23/07), memperpanjang pelemahan tipis dari sesi sebelumnya. Pelaku pasar menilai dampak lonjakan harga energi yang berpotensi mendorong inflasi, di sisi lain data ekonomi Amerika Serikat menunjukkan perlambatan sehingga memunculkan ketidakpastian terhadap arah kebijakan suku bunga Federal Reserve.
Mayoritas investor masih memperkirakan The Fed akan mempertahankan suku bunga pada pertemuan pekan depan. Namun, pasar tetap berhati-hati karena belum ada petunjuk yang jelas dari Ketua The Fed yang baru, Kevin Warsh, mengenai langkah kebijakan selanjutnya. Kondisi ini membuat pergerakan dolar cenderung terbatas sambil menunggu sinyal yang lebih pasti.
Di sisi lain, meningkatnya ketegangan di Timur Tengah membantu menahan pelemahan dolar melalui permintaan aset safe haven. Presiden Donald Trump kembali memperingatkan Iran terkait keamanan pelayaran di Selat Hormuz, sementara Teheran mengancam akan membalas dengan menyerang infrastruktur energi di kawasan. Serangan terhadap kapal tanker di Laut Merah juga memperbesar kekhawatiran akan gangguan perdagangan global, sehingga volatilitas pasar keuangan diperkirakan tetap tinggi.
OPINI ANALIS TRAZE

Indeks Dolar AS (DXY) masih berada dalam tekanan setelah gagal menembus garis resistance sekaligus membentuk pola lower high di dalam ascending channel. Pergerakan harga yang tertahan di bawah garis tren turun menunjukkan momentum bullish mulai melemah. Selama DXY belum mampu kembali ke atas area resistance, peluang koreksi masih lebih dominan.
Target pelemahan berikutnya berada di area 100,57 yang menjadi support penting sekaligus area pantulan sebelumnya. Jika level tersebut ditembus, tekanan jual berpotensi berlanjut dengan membuka ruang penurunan yang lebih dalam. Sebaliknya, apabila DXY mampu menembus garis resistance dan kembali bergerak di atas channel, sentimen bearish dapat mereda dan membuka peluang pemulihan dalam jangka pendek.
DISCLAIMER
PT Traze Andalan Futures teregulasi oleh BAPPEBTI.
Materi ini untuk referensi saja dan bukan untuk rekomendasi melakukan transaksi. Seluruh transaksi yang
diambil sepenuhnya akan menjadi tanggung jawab nasabah. Transaksi Perdagangan Berjangka Komoditi
(PBK) memiliki peluang keuntungan dan risiko kerugian yang tinggi