Harga minyak mentah WTI bertahan di kisaran US$102 per barel setelah menguat selama tiga sesi berturut-turut. Kenaikan ini dipicu konflik berkepanjangan di Timur Tengah yang terus mengganggu pasokan energi global, terutama akibat terbatasnya aktivitas di Selat Hormuz, jalur penting pengiriman minyak dan gas dunia.
Upaya perdamaian antara Amerika Serikat dan Iran sejauh ini belum menunjukkan hasil signifikan. Situasi semakin sensitif setelah Washington menolak respons terbaru Teheran terkait proposal perdamaian. Ketegangan di kawasan tersebut membuat distribusi minyak mentah, gas alam, dan bahan bakar terganggu sehingga memicu kekhawatiran pasar terhadap ketersediaan energi global.
Di sisi lain, inflasi Amerika Serikat pada April meningkat lebih tinggi dari perkiraan akibat lonjakan harga energi. Kondisi ini memperkuat tekanan terhadap perekonomian sekaligus mendukung kenaikan harga minyak. Pelaku pasar kini juga menantikan pertemuan Presiden AS Donald Trump dengan Presiden China Xi Jinping, meski isu perdagangan disebut masih menjadi fokus utama dibanding konflik Iran.
OPINI ANALIS TRAZE

Harga minyak WTI masih bergerak dalam tren bullish meski sempat mengalami koreksi sehat setelah gagal menembus area resistance 99.32. Struktur harga pada grafik menunjukkan potensi pullback menuju zona golden ratio di kisaran 95.60 sebelum melanjutkan kenaikan. Selama harga bertahan di atas area support utama 93.30, peluang penguatan masih terbuka lebar didukung momentum pasar yang tetap solid.
Secara teknikal, area 95.60 menjadi titik penting yang berpotensi memicu rebound baru menuju target resistance 99.32 hingga 100.95. Namun jika tekanan jual meningkat dan harga turun di bawah support invalidasi, tren naik berisiko melemah dalam jangka pendek. Sentimen geopolitik Timur Tengah dan gangguan pasokan energi global masih menjadi katalis utama yang menopang pergerakan minyak dunia.
DISCLAIMER
PT Traze Andalan Futures teregulasi oleh BAPPEBTI.
Materi ini untuk referensi saja dan bukan untuk rekomendasi melakukan transaksi. Seluruh transaksi yang
diambil sepenuhnya akan menjadi tanggung jawab nasabah. Transaksi Perdagangan Berjangka Komoditi
(PBK) memiliki peluang keuntungan dan risiko kerugian yang tinggi.