Harga minyak dunia kembali melemah dengan WTI Crude Oil turun ke kisaran $86 per barel pada Selasa (21/04). Penurunan ini memangkas penguatan sebelumnya setelah muncul kabar bahwa Iran akan mengirim delegasi ke Islamabad untuk melanjutkan negosiasi dengan Amerika Serikat. Langkah ini menjadi perubahan sikap penting dari Teheran yang sebelumnya menolak pembicaraan damai lanjutan.
Di sisi lain, Donald Trump menegaskan kecil kemungkinan gencatan senjata diperpanjang jika tidak tercapai kesepakatan dalam waktu dekat. Ia juga menyebut bahwa Selat Hormuz akan tetap ditutup hingga ada hasil konkret dari perundingan. Kondisi ini membuat jalur distribusi energi global kembali berada dalam tekanan tinggi.
Ketegangan geopolitik semakin meningkat setelah insiden penyitaan kapal oleh AS dan aksi balasan dari Iran yang menargetkan kapal serta memperkuat kontrol di kawasan tersebut. Selain isu jalur minyak, perundingan juga masih dibayangi konflik terkait program nuklir Iran dan ketegangan regional yang belum mereda, sehingga membuat pasar energi tetap volatil dan sensitif terhadap perkembangan terbaru.
OPINI ANALIS TRAZE

Pergerakan WTI Crude Oil saat ini menunjukkan tekanan dalam pola descending channel setelah gagal menembus area resistance di sekitar 88.30. Harga terlihat tertahan di zona supply 86.60 – 88.30, yang menjadi area krusial untuk menentukan arah selanjutnya. Struktur pasar masih cenderung bearish selama harga bergerak di bawah garis tren menurun, meski sempat terjadi pantulan teknikal dari area bawah channel.
Jika tekanan jual berlanjut, potensi penurunan mengarah ke area support 84.00 hingga target lanjutan di kisaran 82.60. Namun, skenario bisa berubah apabila harga mampu breakout dan bertahan di atas resistance, membuka peluang pembalikan arah jangka pendek. Untuk saat ini, pelaku pasar cenderung menunggu konfirmasi kuat sebelum mengambil posisi, mengingat volatilitas masih tinggi dan pergerakan mudah berubah arah.
DISCLAIMER
PT Traze Andalan Futures teregulasi oleh BAPPEBTI.
Materi ini untuk referensi saja dan bukan untuk rekomendasi melakukan transaksi. Seluruh transaksi yang
diambil sepenuhnya akan menjadi tanggung jawab nasabah. Transaksi Perdagangan Berjangka Komoditi
(PBK) memiliki peluang keuntungan dan risiko kerugian yang tinggi.