Indeks Dolar AS (DXY) bertahan di atas level 100 pada perdagangan Kamis (18/06) setelah melonjak hampir 1% pada sesi sebelumnya. Penguatan ini terjadi setelah Federal Reserve memutuskan mempertahankan suku bunga, namun memberikan sinyal yang lebih kuat terkait kemungkinan pengetatan kebijakan di masa mendatang.
Bank sentral AS juga menaikkan proyeksi inflasi secara signifikan seiring meningkatnya dampak ekonomi dari konflik di Timur Tengah. Selain itu, setengah anggota FOMC kini memperkirakan setidaknya satu kali kenaikan suku bunga pada 2026, memperkuat sentimen positif terhadap mata uang dolar.
Ketua The Fed, Kevin Warsh, menegaskan komitmen bank sentral untuk mengembalikan inflasi ke target 2%, meski belum memberikan petunjuk mengenai langkah kebijakan berikutnya. Di sisi geopolitik, pasar turut mencermati kesepakatan sementara yang ditandatangani Presiden Donald Trump untuk mengakhiri perang dengan Iran dan membuka kembali Selat Hormuz, meskipun implementasinya masih menunggu kepastian lebih lanjut.
OPINI ANALIS TRAZE

Indeks Dolar AS (DXY) pada grafik harian menunjukkan momentum bullish yang semakin kuat setelah berhasil bertahan di atas area support utama sekitar 97,00. Struktur harga juga membentuk rangkaian higher low yang mengindikasikan dominasi pembeli masih terjaga. Saat ini, pergerakan harga sedang menguji zona resistensi penting di kisaran 100,40–101,50 yang menjadi penentu arah selanjutnya.
Apabila DXY mampu menembus area hambatan tersebut secara meyakinkan, peluang kenaikan menuju target berikutnya di sekitar 104,00 akan semakin terbuka. Sebaliknya, jika terjadi penolakan, koreksi sehat berpotensi membawa harga kembali menguji area demand sebelum melanjutkan tren naik. Selama bertahan di atas support kunci, prospek jangka menengah tetap cenderung positif dengan fokus pasar pada potensi breakout di atas level psikologis 100.
DISCLAIMER
PT Traze Andalan Futures teregulasi oleh BAPPEBTI.
Materi ini untuk referensi saja dan bukan untuk rekomendasi melakukan transaksi. Seluruh transaksi yang
diambil sepenuhnya akan menjadi tanggung jawab nasabah. Transaksi Perdagangan Berjangka Komoditi
(PBK) memiliki peluang keuntungan dan risiko kerugian yang tinggi.