Harga emas bergerak stabil di kisaran $4.000 per ounce pada perdagangan Kamis (25/06), namun masih berada dekat level terendah dalam hampir delapan bulan terakhir. Penguatan dolar AS menjadi faktor utama yang membatasi kenaikan logam mulia, di tengah meningkatnya ekspektasi pasar terhadap kebijakan moneter yang lebih ketat dari Federal Reserve.
Dolar AS tercatat menguat ke posisi tertinggi dalam lebih dari satu tahun terhadap sejumlah mata uang utama dunia. Kondisi ini membuat emas yang diperdagangkan dalam denominasi dolar menjadi lebih mahal bagi investor global, sehingga permintaan cenderung melemah dan menekan pergerakan harga.
Di sisi lain, pasar semakin yakin bahwa Federal Reserve berpotensi menaikkan suku bunga mulai September, dengan peluang tambahan kenaikan hingga akhir tahun. Prospek tersebut mengurangi daya tarik emas yang tidak memberikan imbal hasil. Sementara itu, kemajuan negosiasi damai antara AS dan Iran yang mendorong harga minyak kembali ke level sebelum konflik turut meredakan tekanan inflasi, sehingga semakin memperkuat ekspektasi kebijakan hawkish The Fed.
OPINI ANALIS TRAZE

Pergerakan harga emas (XAUUSD) pada grafik 1 jam menunjukkan tanda-tanda pemulihan setelah bertahan di area support kuat sekitar 3.960. Pergerakan saat ini masih berada di atas level Fibonacci Golden Ratio 3.981, yang menjadi sinyal bahwa tekanan jual mulai mereda. Selama harga mampu mempertahankan area tersebut, peluang penguatan jangka pendek masih terbuka dengan target terdekat di 4.034, kemudian berlanjut ke 4.054.
Dari sisi teknikal, terbentuknya rangkaian higher low mengindikasikan minat beli mulai kembali muncul setelah koreksi tajam sebelumnya. Namun, skenario bullish akan batal apabila harga turun dan menembus 3.959, yang berpotensi membuka ruang pelemahan lebih dalam menuju area 3.923. Oleh karena itu, pelaku pasar perlu mencermati reaksi harga di sekitar zona support sebagai penentu arah pergerakan emas berikutnya.
DISCLAIMER
PT Traze Andalan Futures teregulasi oleh BAPPEBTI.
Materi ini untuk referensi saja dan bukan untuk rekomendasi melakukan transaksi. Seluruh transaksi yang
diambil sepenuhnya akan menjadi tanggung jawab nasabah. Transaksi Perdagangan Berjangka Komoditi
(PBK) memiliki peluang keuntungan dan risiko kerugian yang tinggi.