Harga minyak mentah dunia jenis WTI melemah mendekati USD 62 per barel pada Rabu (18/02), melanjutkan penurunan dari sesi sebelumnya seiring meredanya premi risiko geopolitik. Sentimen pasar membaik setelah pembicaraan antara Amerika Serikat dan Iran terkait program nuklir menunjukkan kemajuan positif. Otoritas Teheran menyebut telah tercapai “kesepakatan umum” mengenai kerangka awal perjanjian, sementara pejabat Washington mengonfirmasi negosiasi akan dilanjutkan di Jenewa dalam dua pekan dengan proposal baru.
Perkembangan diplomatik ini muncul di tengah dinamika militer yang masih berlangsung. Iran mengumumkan penutupan sementara sebagian Selat Hormuz untuk latihan, sedangkan Amerika Serikat mengerahkan kapal induk kedua ke kawasan tersebut. Meski demikian, pasar lebih fokus pada peluang tercapainya kompromi yang dapat meredakan ketegangan dan menurunkan kekhawatiran gangguan pasokan energi global.
Selain isu Timur Tengah, pelaku pasar juga mencermati perundingan Rusia–Ukraina yang dimediasi AS di Jenewa. Jika tercapai solusi damai, pelonggaran sanksi berpotensi meningkatkan aliran minyak Rusia ke pasar internasional. Kombinasi faktor ini mendorong ekspektasi pasokan yang lebih longgar, sehingga menekan harga minyak dan membatasi potensi penguatan dalam jangka pendek.
OPINI ANALIS TRAZE

Harga WTI Oil di grafik satu jam tertahan di area supply 63,40 – 63,90 setelah gagal melanjutkan kenaikan. Penolakan di zona tersebut memicu tekanan jual dan membentuk perubahan struktur yang mengindikasikan pelemahan jangka pendek. Selama harga berada di bawah 63,50, bias masih cenderung turun.
Support terdekat berada di area demand 61,00–61,20. Jika level ini ditembus, penurunan berpotensi berlanjut menuju 60,30. Sebaliknya, penembusan kembali di atas 63,00 membuka peluang rebound teknikal.
DISCLAIMER
PT Traze Andalan Futures teregulasi oleh BAPPEBTI.
Materi ini untuk referensi saja dan bukan untuk rekomendasi melakukan transaksi. Seluruh transaksi yang
diambil sepenuhnya akan menjadi tanggung jawab nasabah. Transaksi Perdagangan Berjangka Komoditi
(PBK) memiliki peluang keuntungan dan risiko kerugian yang tinggi.