Minyak mentah WTI bergerak di sekitar US$92,05 per barel pada awal sesi Asia, Selasa (29/09), dengan kenaikan tipis. Pergerakan ini terjadi ketika pasar mencermati perkembangan negosiasi antara Amerika Serikat dan Iran terkait pembukaan kembali Selat Hormuz, jalur penting bagi perdagangan energi global.
Presiden AS Donald Trump sebelumnya menolak proposal Iran untuk membuka kembali selat tersebut. Namun, peluang dialog melalui mediator Qatar kembali menjadi perhatian setelah Menteri Luar Negeri Iran Abbas Araghchi menyebut Teheran tengah membahas proposal dengan pihak Qatar untuk disampaikan kepada Washington. Perkembangan diplomatik ini membuat kenaikan WTI tertahan karena pasar menimbang kemungkinan meredanya risiko gangguan pasokan.
Di sisi lain, ketegangan Timur Tengah masih menjadi faktor pendukung harga minyak dalam jangka pendek. Arab Saudi telah memulihkan sekitar setengah aliran minyak melalui pipa Timur-Barat menuju Laut Merah, dengan kapasitas yang dilaporkan mencapai setidaknya 3,5 juta barel per hari. Pemulihan jalur alternatif tersebut berpotensi menambah pasokan ke pasar dan membatasi ruang kenaikan WTI, sementara arah berikutnya akan sangat bergantung pada perkembangan perundingan AS-Iran dan kondisi Selat Hormuz.
OPINI ANALIS TRAZE
Harga minyak mentah WTI (US Oil Spot) menunjukkan indikasi bullish reversal setelah berhasil membentuk konfirmasi pergerakan Change of Character (CHoCH) di sekitar level $92.11. Area pemicu entry beli ideal berada pada kisaran $92.14, memanfaatkan momentum pantulan harga untuk mengejar target penguatan terdekat.
Skenario kenaikan ini memproyeksikan target Take Profit pertama pada level $93.43 dan target kedua di kisaran $94.13. Untuk menjaga batas risiko, tempatkan Stop Loss atau garis invalidasi support pada level $91.41.
DISCLAIMER
PT Traze Andalan Futures teregulasi oleh BAPPEBTI.
Materi ini untuk referensi saja dan bukan untuk rekomendasi melakukan transaksi. Seluruh transaksi yang
diambil sepenuhnya akan menjadi tanggung jawab nasabah. Transaksi Perdagangan Berjangka Komoditi
(PBK) memiliki peluang keuntungan dan risiko kerugian yang tinggi