Harga emas kembali tertekan menuju US$4.100 per troy ons pada Selasa (20/10), mencatat penurunan selama tiga sesi berturut-turut. Tekanan datang dari kenaikan harga minyak yang memicu kekhawatiran inflasi serta memperkuat ekspektasi kebijakan moneter yang lebih ketat. Penguatan dolar AS dan kenaikan imbal hasil obligasi turut membuat emas kurang menarik bagi investor.
Harga minyak masih bertahan tinggi di tengah konflik yang berlangsung di Timur Tengah dan Eropa Timur. Iran juga terus menegaskan kendalinya atas Selat Hormuz, sehingga risiko gangguan pasokan energi tetap menjadi perhatian pasar. Kondisi tersebut berpotensi menjaga tekanan inflasi dan membatasi ruang bank sentral untuk melonggarkan kebijakan.
Dari sisi moneter, The Fed diperkirakan mempertahankan suku bunga pada pertemuan pekan depan, sementara pasar melihat peluang kenaikan suku bunga pada Desember sekitar 94%. ECB juga diproyeksikan masih menaikkan suku bunga setidaknya 25 basis poin tahun ini, sedangkan Gubernur Bank of Japan Kazuo Ueda menilai inflasi inti sudah mendekati target 2%. Kombinasi kebijakan yang cenderung ketat ini menjadi tantangan bagi harga emas dalam jangka pendek.
OPINI ANALIS TRAZE

Prospek Bearish XAUUSD 4H: Mengintip Potensi Koreksi Emas Berbasis Fibonacci
Berdasarkan grafik pergerakan XAUUSD pada kerangka waktu 1 jam, komoditas emas tampak tertahan di area supply zone dekat level golden ratio 61.80% pada kisaran 4,161.93 dengan batas invalidation resistance di 4,190.64. Formasi struktur tersebut mengisyaratkan peluang tekanan jual lanjutan bagi sang logam mulia.
Investor dapat mencermati potensi penurunan lanjutan menuju target support utama pada level 4,115.48 hingga ekstensi bawah di 4,095.04 selama area pertahanan atas tidak ditembus. Penerapan manajemen risiko yang disiplin menjadi kunci utama dalam menghadapi volatilitas pasar komoditas saat ini.
DISCLAIMER
PT Traze Andalan Futures teregulasi oleh BAPPEBTI.
Materi ini untuk referensi saja dan bukan untuk rekomendasi melakukan transaksi. Seluruh transaksi yang
diambil sepenuhnya akan menjadi tanggung jawab nasabah. Transaksi Perdagangan Berjangka Komoditi
(PBK) memiliki peluang keuntungan dan risiko kerugian yang tinggi