Harga minyak West Texas Intermediate (WTI) stabil di sekitar US$92,30 per barel pada perdagangan Selasa (22/09), menghentikan penurunan selama empat hari berturut-turut. Meski demikian, prospek minyak mentah masih menghadapi tekanan seiring meredanya kekhawatiran mengenai gangguan pasokan dari Timur Tengah dan meningkatnya upaya diplomatik untuk mengakhiri konflik AS – Iran.
Perhatian pasar kini tertuju pada agenda Presiden AS Donald Trump di Majelis Umum PBB, termasuk peluang pertemuan dengan Presiden Iran Masoud Pezeshkian. Rencana pembicaraan dengan sejumlah negara Teluk dan Presiden China Xi Jinping juga menjadi sorotan. Di sisi lain, meningkatnya aktivitas pengiriman minyak melalui Selat Hormuz serta bertambahnya kapal tanker di terminal ekspor Arab Saudi menunjukkan bahwa arus pasokan energi masih berjalan.
Namun, risiko geopolitik belum sepenuhnya mereda. Kelompok Houthi yang didukung Iran dilaporkan melancarkan serangan terhadap Riyadh dan fasilitas Saudi Aramco di Yanbu, sementara ketegangan di kawasan Laut Merah terus meningkat. Ancaman sanksi AS terhadap maskapai Iran juga menambah ketidakpastian, sehingga pelaku pasar tetap mencermati perkembangan konflik, jalur diplomasi, dan potensi gangguan pasokan sebagai penentu arah harga WTI berikutnya.
OPINI ANALIS TRAZE

Secara teknikal, WTI menunjukkan peluang pemulihan setelah membentuk pantulan dari area demand di sekitar US$91,40 – 91,64. Struktur harga mulai membaik dengan munculnya Change of Character (CHoCH), sehingga momentum bullish berpotensi berlanjut selama harga mampu bertahan di atas zona tersebut.
Jika penguatan berlanjut, US$93,35 menjadi target pertama, kemudian area US$94,38 sebagai target berikutnya. Sebaliknya, tekanan jual kembali meningkat apabila harga menembus US$90,89, yang menjadi level invalidasi support dan dapat membuka ruang pelemahan lebih lanjut.
DISCLAIMER
PT Traze Andalan Futures teregulasi oleh BAPPEBTI.
Materi ini untuk referensi saja dan bukan untuk rekomendasi melakukan transaksi. Seluruh transaksi yang
diambil sepenuhnya akan menjadi tanggung jawab nasabah. Transaksi Perdagangan Berjangka Komoditi
(PBK) memiliki peluang keuntungan dan risiko kerugian yang tinggi