Harga minyak mentah bergerak di sekitar US$89 per barel pada Selasa (06/10) setelah melemah selama dua sesi berturut-turut. Tekanan datang dari tanda-tanda pemulihan ekspor minyak Timur Tengah menuju level sebelum perang, sehingga kekhawatiran terhadap gangguan pasokan mulai mereda.
Menurut JPMorgan, pengiriman minyak mentah telah pulih menjadi 17,5 juta barel per hari, atau sekitar 98% dari level sebelum perang. Arus produk seperti diesel dan bensin juga meningkat, sementara negara-negara Teluk mulai mengirim lebih banyak kargo melalui Selat Hormuz. Kondisi ini diperkuat oleh langkah Arab Saudi yang memangkas harga minyak unggulannya untuk pembeli Asia, menandakan pasar energi mulai lebih longgar.
Kini perhatian investor beralih ke Short-Term Energy Outlook dari EIA AS yang dijadwalkan terbit hari ini. Laporan tersebut akan menjadi petunjuk penting mengenai prospek permintaan, produksi, dan keseimbangan pasar minyak AS, sekaligus menentukan arah harga minyak selanjutnya.
OPINI ANALIS TRAZE

Analisis Teknikal USOIL (WTI): Peluang Sell On Retest Setelah Formasi CHoCH
Pergerakan harga Minyak Mentah WTI (USOIL) pada grafik 30 menit mengindikasikan peluang koreksi teknikal setelah terbentuknya konfirmasi Change of Character (CHoCH). Saat ini, harga berpotensi melaju naik menuju Area Koreksi di kisaran $90.260 per barel. Zona resistensi lokal ini menjadi titik masuk ideal bagi para pelaku pasar untuk mengambil posisi sell demi memanfaatkan kembali tren penurunan utama.
Skenario bearish memproyeksikan penurunan tajam menuju Target 1 di level $87.916, sebelum berlanjut menguji Weak Low pada Target 2 di $87.287. Untuk menerapkan manajemen risiko secara optimal, tempatkan pembatasan risiko (stop loss) tepat di atas level Invalidasi Resistance $90.988 (Strong High), sebab penembusan zona tersebut akan membatalkan proyeksi penurunan ini.
DISCLAIMER
PT Traze Andalan Futures teregulasi oleh BAPPEBTI.
Materi ini untuk referensi saja dan bukan untuk rekomendasi melakukan transaksi. Seluruh transaksi yang
diambil sepenuhnya akan menjadi tanggung jawab nasabah. Transaksi Perdagangan Berjangka Komoditi
(PBK) memiliki peluang keuntungan dan risiko kerugian yang tinggi