Harga Emas tertekan hingga mendekati US$4.395 pada awal perdagangan Asia pekan (07/09), melanjutkan pelemahan setelah data ketenagakerjaan Amerika Serikat yang kuat mengubah ekspektasi pasar terhadap kebijakan Federal Reserve (The Fed). Nonfarm Payrolls (NFP) Agustus melonjak 162 ribu, jauh di atas perkiraan 56 ribu, sekaligus meningkat tajam dari 21 ribu pada Juli. Kinerja pasar tenaga kerja tersebut memperkuat spekulasi bahwa bank sentral AS masih memiliki ruang untuk menaikkan suku bunga dalam waktu dekat.
Penguatan ekspektasi pengetatan moneter membuat daya tarik Emas sebagai aset tanpa imbal hasil kembali berkurang. Pelaku pasar kini mengalihkan perhatian ke data inflasi Amerika Serikat melalui Consumer Price Index (CPI) dan Producer Price Index (PPI) yang akan dirilis pekan ini. Kedua indikator tersebut menjadi sorotan utama karena dapat memberikan gambaran lebih jelas mengenai arah kebijakan The Fed pada September. Selain itu, sentimen konsumen Michigan dan penjualan rumah yang sudah ada turut menjadi perhatian investor.
Dalam keterangan waktu GMT+7
Tekanan terhadap logam mulia juga datang dari meningkatnya ketegangan di Timur Tengah setelah konflik AS-Iran mengancam kelancaran lalu lintas tanker di kawasan Teluk Persia dan Selat Hormuz. Gangguan pasokan energi berpotensi mendorong harga minyak sekaligus meningkatkan risiko inflasi, sehingga dapat memperkuat tekanan terhadap bullion. Di sisi lain, pasar masih mencermati pandangan pejabat The Fed, termasuk Christopher Waller, yang sebelumnya memicu perubahan ekspektasi suku bunga dan membantu menopang pemulihan harga Emas.
Analisa Teknikal XAU/USD
Pergerakan harga XAU/USD masih bergerak dalam struktur bullish, meski momentum jangka pendek terlihat tertahan setelah koreksi dari area puncak. Pada grafik, harga kini berada di sekitar 4.373, dengan level 4.400 menjadi area penting yang perlu ditembus untuk membuka ruang penguatan berikutnya.
Jika mampu bertahan di atas 4.286 sebagai support utama, peluang rebound masih terbuka menuju 4.460, kemudian 4.515 – 4.575. Penembusan area tersebut akan memperkuat momentum bullish dengan target berikutnya di sekitar 4.653, sesuai proyeksi Fibonacci dan struktur harga pada grafik.
Sebaliknya, kegagalan mempertahankan 4.286 dapat menjadi sinyal pelemahan lebih dalam. Tekanan jual berpotensi membawa emas menuju zona 4.260 – 4.180, bahkan 4.147 apabila support tersebut ikut ditembus. Untuk saat ini, 4.286 menjadi batas invalidasi penting, sementara area 4.400 – 4.460 menjadi kunci konfirmasi kelanjutan tren naik.
DISCLAIMER PT Traze Andalan Futures teregulasi oleh BAPPEBTI. Materi ini untuk referensi saja dan bukan untuk rekomendasi melakukan transaksi. Seluruh transaksi yang diambil sepenuhnya akan menjadi tanggung jawab nasabah. Transaksi Perdagangan Berjangka Komoditi (PBK) memiliki peluang keuntungan dan risiko kerugian yang tinggi
Harga Emas Tertekan Setelah Nada Hawkish The Fed
Harga emas melemah ke sekitar US$4.445 pada awal perdagangan sesi Asia, Senin (31/08), setelah Ketua Federal Reserve, Kevin Warsh, menyampaikan pandangan yang lebih hawkish dalam simposium ekonomi Jackson Hole. Warsh menilai inflasi Amerika Serikat belum menunjukkan perlambatan yang cukup meyakinkan dan menegaskan bahwa The Fed masih memiliki pekerjaan untuk meredam tekanan harga. Pernyataan tersebut mendorong pasar meningkatkan ekspektasi kenaikan suku bunga pada September menjadi 56,9%, dari sebelumnya 39,9%. Sementara itu, peluang kenaikan suku bunga pada Desember mencapai 88,7% berdasarkan CME FedWatch Tool. Prospek suku bunga yang lebih tinggi menjadi tekanan bagi harga emas karena logam mulia tidak memberikan imbal hasil dan cenderung kurang menarik ketika tingkat bunga meningkat.
Meski berada di bawah tekanan, fundamental emas masih relatif kuat. TD Securities menilai perubahan ekspektasi kebijakan The Fed dapat memicu aksi ambil untung, tetapi belum tentu cukup kuat untuk membalikkan tren positif emas secara keseluruhan. Di sisi lain, meningkatnya ketegangan geopolitik di Timur Tengah kembali menjadi perhatian pasar setelah laporan serangan militer AS terhadap peluncur roket Iran yang diduga bersiap mengirim ranjau ke Selat Hormuz. Potensi gangguan pasokan minyak dapat mendorong kenaikan harga energi dan menciptakan tekanan inflasi baru. Kondisi tersebut berpotensi memperumit arah kebijakan The Fed, sekaligus menjaga permintaan terhadap emas sebagai aset lindung nilai.
The Fed Tetap Fokus Menekan Inflasi
Warsh juga menyoroti konsumsi rumah tangga yang masih kuat, pasar tenaga kerja yang relatif stabil, serta investasi bisnis yang tumbuh pesat. Menurutnya, kondisi tersebut menunjukkan perekonomian AS masih cukup solid, sementara inflasi inti belum memberikan bukti yang kuat bahwa tekanan harga sedang bergerak menuju target 2%. Sikap tersebut memperkuat pandangan bahwa kebijakan moneter The Fed kemungkinan akan tetap ketat lebih lama. Dampaknya, Dolar AS berpotensi mendapat dukungan, sementara ruang penguatan harga emas dalam jangka pendek menjadi lebih terbatas.
Memasuki awal September, perhatian pelaku pasar akan beralih pada sejumlah data ekonomi penting Amerika Serikat, terutama sektor tenaga kerja Non Farm-Payrolls. Laporan Employment Situation dari Bureau of Labor Statistics (BLS) akan menjadi sorotan utama karena kondisi pasar kerja menjadi salah satu pertimbangan penting dalam menentukan arah kebijakan moneter. Selain itu, data ISM PMI juga akan menjadi perhatian untuk mengukur kekuatan aktivitas ekonomi.
Jika data menunjukkan ekonomi tetap tangguh dan inflasi belum mereda secara signifikan, tekanan terhadap emas dapat berlanjut. Sebaliknya, pelemahan pasar tenaga kerja atau perlambatan aktivitas ekonomi dapat kembali meningkatkan harapan pelonggaran kebijakan dan membuka peluang bagi emas untuk menguat.
Analisa Teknikal XAU/USD: Emas Menguji Support Kunci
Secara teknikal, XAU/USD terlihat mengalami koreksi setelah gagal bertahan di area resistance US$4.696. Harga kini berada di sekitar US$4.429, tepat pada level Fibonacci 38,2%, sehingga area ini menjadi penentu arah pergerakan berikutnya. Jika mampu bertahan, emas berpeluang rebound menuju US$4.531 dan kemudian menguji kembali US$4.696. Penembusan kuat di atas area tersebut dapat membuka jalan menuju US$4.886.
Sebaliknya, tekanan jual akan semakin kuat apabila harga menembus support US$4.264, yang berpotensi membawa XAU/USD menuju US$4.147 sebagai area invalidasi skenario bullish. Jika level tersebut turut ditembus, risiko pelemahan dapat berlanjut ke zona US$4.010 – US$3.997. Dengan demikian, US$4.264 menjadi level penting untuk menjaga peluang pemulihan emas, sementara pergerakan di atas US$4.531 akan menjadi sinyal awal penguatan kembali.
DISCLAIMER PT Traze Andalan Futures teregulasi oleh BAPPEBTI. Materi ini untuk referensi saja dan bukan untuk rekomendasi melakukan transaksi. Seluruh transaksi yang diambil sepenuhnya akan menjadi tanggung jawab nasabah. Transaksi Perdagangan Berjangka Komoditi (PBK) memiliki peluang keuntungan dan risiko kerugian yang tinggi
Pasar keuangan global memasuki pekan yang penuh perhatian. Investor kini menyoroti arah suku bunga global dan imbal hasil obligasi pemerintah jangka panjang, terutama di tengah lonjakan harga energi, peningkatan belanja defisit, serta derasnya penerbitan utang korporasi. Kebijakan moneter Federal Reserve juga menjadi sorotan menjelang berbagai pernyataan pejabat FOMC dalam Simposium Jackson Hole. Di sisi lain, laporan keuangan Nvidia akan menjadi barometer penting untuk mengukur kekuatan permintaan teknologi kecerdasan buatan atau AI, di tengah optimisme pertumbuhan yang mulai berhadapan dengan kekhawatiran mengenai besarnya investasi infrastruktur.
Sejumlah data ekonomi Amerika Serikat juga berpotensi meningkatkan volatilitas pasar, termasuk data pendapatan dan belanja pribadi, inflasi PCE, pesanan barang tahan lama Juli, serta revisi tahunan data tenaga kerja nonfarm payrolls. Hasil dari berbagai indikator tersebut akan menjadi bahan pertimbangan investor dalam membaca langkah Federal Reserve selanjutnya, terutama terkait arah suku bunga dan prospek ekonomi AS.
Di tengah situasi tersebut, harga emas melanjutkan performa gemilang pada perdagangan Asia hari Senin dengan kembali memperbarui level tertinggi dalam tiga bulan dan bergerak di atas $4.600. Penguatan logam mulia didukung oleh pelemahan Dolar AS yang masih berlanjut, setelah muncul rencana pembelian kembali obligasi pemerintah AS oleh Departemen Keuangan. Ketegangan perdagangan antara Amerika Serikat dan Kanada juga ikut meningkatkan minat investor terhadap aset safe haven seperti emas.
Indeks Dolar AS bertahan di sekitar 98,8 setelah mengalami penurunan tajam pada pekan sebelumnya. Kenaikan signifikan imbal hasil obligasi Treasury memicu kekhawatiran mengenai beban utang pemerintah AS yang terus meningkat, sehingga mengurangi daya tarik mata uang Negeri Paman Sam. Menteri Keuangan AS, Scott Bessent, juga mengungkapkan strategi pembelian kembali obligasi jangka panjang yang disebut sebagai “Treasury Twist”, dengan tujuan memengaruhi kurva imbal hasil dan membantu mengelola biaya pinjaman pemerintah.
Selain faktor ekonomi, investor masih mencermati perkembangan geopolitik di Timur Tengah, termasuk rencana AS untuk mengumumkan sanksi baru terhadap Iran. Kombinasi ketidakpastian geopolitik, tekanan terhadap Dolar AS, kekhawatiran utang pemerintah, serta spekulasi kebijakan Federal Reserve berpotensi menjaga minat terhadap emas. Ke depan, pergerakan harga logam mulia akan sangat dipengaruhi oleh data inflasi PCE dan sinyal kebijakan dari Federal Reserve dalam Simposium Jackson Hole.
Analisa Teknikal XAU/USD: XAUUSD pada grafik H4 masih menunjukkan tren bullish
XAUUSD pada grafik H4 masih menunjukkan tren bullish setelah harga mencetak kenaikan kuat dari demand zone. Saat ini, emas sedang mengalami koreksi menuju area Fibonacci sebelum berpotensi melanjutkan penguatan. Selama harga bertahan di atas support penting sekitar 4.528 hingga 4.480, peluang kenaikan masih cukup terbuka.
Jika tekanan beli kembali muncul, XAUUSD berpotensi melanjutkan pergerakan menuju area 4.655 dan target berikutnya di sekitar 4.734. Namun, apabila harga turun menembus demand zone di area 4.312, skenario bullish dapat melemah dan membuka peluang koreksi lebih dalam. Trader sebaiknya menunggu konfirmasi harga sebelum menentukan posisi.
DISCLAIMER PT Traze Andalan Futures teregulasi oleh BAPPEBTI. Materi ini untuk referensi saja dan bukan untuk rekomendasi melakukan transaksi. Seluruh transaksi yang diambil sepenuhnya akan menjadi tanggung jawab nasabah. Transaksi Perdagangan Berjangka Komoditi (PBK) memiliki peluang keuntungan dan risiko kerugian yang tinggi
Harga emas kembali menguji area US$4.400 setelah sebelumnya memantul dari sekitar US$4.300. Level tersebut menjadi zona penting bagi pembeli untuk mempertahankan momentum kenaikan. Meski pergerakan masih berfluktuasi, bias bullish tetap terjaga selama harga mampu bertahan di atas area support terdekat.
Dari sisi fundamental, pelemahan Dolar AS menjadi salah satu katalis positif bagi emas. Pasar juga mulai mengurangi ekspektasi kenaikan suku bunga The Fed pada September setelah sejumlah data ekonomi AS menunjukkan tanda perlambatan. Kondisi ini membuat aset tanpa imbal hasil seperti emas kembali menarik bagi investor.
Pasar saat ini memperkirakan peluang 70% suku bunga The Fed tetap di 3,50% – 3,75% pada pertemuan 16 September 2026, sementara peluang kenaikan ke 3,75% – 4,00% hanya sekitar 30%. Kondisi ini menunjukkan ekspektasi pasar masih cenderung dovish, sehingga dapat menjadi katalis positif bagi emas karena tekanan terhadap Dolar AS berpotensi berkurang.
Namun, peluang kenaikan suku bunga tetap perlu diperhatikan karena dapat memicu penguatan USD dan menekan harga emas. Kesimpulannya, selama ekspektasi kenaikan suku bunga tetap rendah, bias emas masih relatif positif, dengan data inflasi dan tenaga kerja AS menjadi faktor penting berikutnya.
Selain kebijakan The Fed, perkembangan geopolitik Timur Tengah masih menjadi perhatian utama. Ketegangan yang meningkat dapat mendorong permintaan aset safe haven, sementara arus dana ETF emas yang kembali positif turut memperkuat sentimen. Jika XAU/USD mampu menembus US$4.400 secara meyakinkan, peluang melanjutkan tren naik semakin terbuka.
Analisa Teknikal XAU/USD: Gelombang Elliott Masih Buka Ruang Kenaikan
Secara teknikal, XAU/USD masih berada dalam struktur bullish setelah membentuk impuls naik hingga area US$4.449. Saat ini harga terlihat menjalani fase koreksi gelombang (4), dengan zona Fibonacci 38,2% – 61,8% di sekitar US$4.364 – US$4.311 menjadi area penting untuk menjaga momentum positif. Selama harga bertahan di atas support tersebut, tekanan turun masih berpotensi menjadi koreksi sementara.
Jika pembeli kembali mengambil kendali dan harga mampu menembus US$4.449, struktur Elliott Wave membuka peluang terbentuknya gelombang (5) menuju area target sekitar US$4.510. Sebaliknya, penurunan menembus US$4.225 akan menjadi sinyal peringatan karena dapat membatalkan skenario bullish dan mengubah struktur kenaikan XAU/USD.
DISCLAIMER PT Traze Andalan Futures teregulasi oleh BAPPEBTI. Materi ini untuk referensi saja dan bukan untuk rekomendasi melakukan transaksi. Seluruh transaksi yang diambil sepenuhnya akan menjadi tanggung jawab nasabah. Transaksi Perdagangan Berjangka Komoditi (PBK) memiliki peluang keuntungan dan risiko kerugian yang tinggi
Setelah mengawali pekan dengan pergerakan relatif tenang, Emas (XAU/USD) mulai mengumpulkan momentum bullish dan menembus level US$4.300, mencatat posisi tertinggi sejak pertengahan Juni. Penguatan ini didorong oleh melemahnya Dolar AS (USD), turunnya imbal hasil obligasi pemerintah AS, serta berkurangnya ekspektasi pasar terhadap kenaikan suku bunga Federal Reserve (The Fed) pada September.
Kini, perhatian investor beralih ke data inflasi AS bulan Juli yang akan menjadi ujian penting bagi keberlanjutan reli Emas. Jika tekanan harga tetap terkendali, peluang pelonggaran kebijakan The Fed dapat kembali menguat dan memberikan ruang bagi XAU/USD untuk melanjutkan kenaikan. Sebaliknya, inflasi yang lebih tinggi dari perkiraan berpotensi memicu aksi ambil untung.
Emas Menguat saat Pasar Menilai Ulang Kebijakan The Fed
Sentimen terhadap Emas mulai membaik setelah Presiden AS Donald Trump mengumumkan penundaan rencana serangan besar-besaran dan membuka kembali jalur negosiasi dengan Iran. Perkembangan tersebut menekan harga Minyak Mentah dan meredakan kekhawatiran terhadap lonjakan inflasi global.
Di saat yang sama, Dolar AS kesulitan mempertahankan penguatannya. Kombinasi USD yang melemah, turunnya harga Minyak, serta meningkatnya minat terhadap aset safe haven membantu XAU/USD bergerak lebih tinggi. Pada pertengahan pekan, Emas bahkan melonjak lebih dari 4%, mencatat kenaikan harian terbesar sejak awal Februari.
Data ekonomi AS turut memperkuat momentum tersebut. Laporan Automatic Data Processing (ADP) menunjukkan sektor swasta hanya menambah 44 ribu pekerjaan pada Juli, jauh di bawah ekspektasi pasar sebesar 70 ribu. Sementara itu, komponen ketenagakerjaan dalam indeks PMI Jasa Institute for Supply Management (ISM) turun ke 47,4 dari 51,2 dan masuk ke wilayah kontraksi.
Data tersebut membuat investor kembali mempertanyakan kekuatan ekonomi AS dan prospek kebijakan The Fed. Berdasarkan CME FedWatch Tool, probabilitas kenaikan suku bunga pada September turun menjadi sekitar 55%, dari hampir 70% sepekan sebelumnya. Penurunan ekspektasi tersebut mendorong imbal hasil Treasury AS lebih rendah dan memberikan dorongan tambahan bagi Emas.
Nada hati-hati dari Presiden Federal Reserve Bank of Minneapolis, Neel Kashkari, juga ikut menekan USD. Kashkari sebelumnya mendukung kenaikan suku bunga 25 basis poin pada pertemuan Juli, tetapi dalam pernyataan terbarunya ia menunjukkan sikap yang lebih berhati-hati terhadap pengetatan kebijakan.
Pernyataannya mengindikasikan bahwa The Fed masih berupaya menekan inflasi tanpa memberikan tekanan berlebihan terhadap pertumbuhan ekonomi. Kashkari juga menilai sebagian tekanan harga terbaru berasal dari sisi pasokan dan menegaskan bahwa kebijakan bank sentral tetap bergantung pada perkembangan data.
Analis OCBC melihat penguatan Emas sebagai kombinasi dari beberapa faktor. Meredanya ketegangan geopolitik menekan harga Minyak, sementara imbal hasil Treasury dan USD juga bergerak turun. Kondisi tersebut membuat ekspektasi kenaikan suku bunga The Fed pada September semakin berkurang.
Dari sisi teknikal, penembusan resistance penting turut memicu pembelian baru dan short covering. Dengan demikian, reli Emas tidak hanya ditopang faktor fundamental, tetapi juga mendapatkan dukungan dari momentum teknikal.
OCBC menilai pasar mulai memperhitungkan beberapa skenario yang menguntungkan Emas, termasuk potensi de-eskalasi konflik AS-Iran, normalisasi aliran Minyak melalui Selat Hormuz, penurunan suku bunga riil, serta USD yang lebih lemah.
Setelah berkonsolidasi pada Kamis, XAU/USD kembali mendapatkan tenaga bullish menjelang rilis data ketenagakerjaan AS. Emas kemudian menembus US$4.300 dan bergerak lebih tinggi.
Menjelang akhir pekan, harga bahkan melampaui US$4.350 setelah ekspektasi kenaikan suku bunga September kembali menurun. Data Nonfarm Payrolls (NFP) turut memperkuat sentimen tersebut. Biro Statistik Tenaga Kerja AS (BLS) melaporkan bahwa lapangan kerja nonpertanian justru turun 23 ribu pada Juli, setelah kenaikan 20 ribu pada Juni yang sebelumnya dilaporkan sebesar 57 ribu. Angka tersebut juga jauh di bawah ekspektasi pasar yang memperkirakan kenaikan 80 ribu.
Inflasi AS Jadi Ujian Berikutnya bagi Emas
Setelah data ketenagakerjaan mengecewakan, perhatian pasar kini tertuju pada data inflasi AS bulan Juli yang akan dirilis BLS pada hari Rabu (12/08). Pasar memperkirakan Indeks Harga Konsumen (IHK/CPI) naik 0,1% secara bulanan, sementara CPI inti diperkirakan meningkat 0,2% setelah tidak mengalami perubahan pada Juni.
Data ini akan menjadi salah satu faktor penting dalam menentukan arah XAU/USD. Jika CPI inti meningkat lebih tinggi dari perkiraan, investor berpotensi kembali meningkatkan ekspektasi terhadap kebijakan moneter ketat The Fed. Imbal hasil Treasury dapat naik dan memberikan tekanan terhadap Emas.
Sebaliknya, jika inflasi berada di bawah ekspektasi, pasar kemungkinan semakin yakin bahwa tekanan harga mulai mereda. Kondisi tersebut dapat menekan USD dan imbal hasil obligasi, sekaligus membuka ruang bagi Emas untuk melanjutkan reli. Commerzbank menilai keputusan The Fed pada September masih sangat bergantung pada perkembangan inflasi. Jika tekanan harga terus mereda, peluang The Fed untuk mempertahankan suku bunga menjadi lebih besar. Namun, inflasi yang kembali meningkat pada Juli atau Agustus dapat mengubah perhitungan tersebut. Karena itu, data CPI pekan ini menjadi salah satu katalis terpenting bagi pasar Emas. Investor akan mencermati apakah tren disinflasi AS masih berlanjut atau justru kembali menghadapi tekanan.
Selat Hormuz Tetap Menjadi Risiko bagi Emas
Selain inflasi, perkembangan geopolitik di Timur Tengah juga perlu diperhatikan. Jika ketegangan antara AS dan Iran kembali meningkat dan mengganggu jalur pelayaran di Selat Hormuz, harga Minyak berpotensi melonjak.
Kenaikan harga Minyak dapat meningkatkan kekhawatiran terhadap inflasi dan mendorong pasar kembali memperhitungkan kebijakan The Fed yang lebih ketat. Skenario tersebut dapat menjadi hambatan bagi reli Emas.
Rabobank juga memperingatkan bahwa harapan terhadap penyelesaian cepat gangguan pelayaran di Selat Hormuz mungkin terlalu optimistis. Menurut mereka, kesepakatan jangka pendek belum tentu mampu menyelesaikan persoalan utama dalam konflik tersebut. Bahkan jika kesepakatan sementara tercapai, kondisi tersebut belum tentu menjadi solusi permanen. Ketegangan dapat kembali meningkat apabila proses negosiasi menemui jalan buntu, sehingga pasar kembali menghadapi risiko volatilitas tinggi pada harga Minyak, USD, dan Emas.
Outlook Emas Pekan Ini
Secara keseluruhan, prospek jangka pendek XAU/USD masih cenderung bullish. Pelemahan USD, turunnya imbal hasil Treasury, berkurangnya ekspektasi kenaikan suku bunga The Fed, serta momentum teknikal yang kuat menjadi fondasi utama bagi kenaikan Emas.
Namun, setelah reli yang cukup agresif, risiko koreksi tetap terbuka. Data CPI AS menjadi katalis utama yang dapat menentukan apakah Emas mampu mempertahankan momentum di atas US$4.300 atau justru mengalami aksi ambil untung.
Trader sebaiknya mencermati kombinasi antara data inflasi, pergerakan USD, imbal hasil Treasury, harga Minyak, dan perkembangan geopolitik sebelum mengambil keputusan. Selama tekanan jual belum mampu membawa XAU/USD kembali ke bawah support penting, peluang bullish masih terbuka. Sebaliknya, kejutan inflasi dan penguatan USD dapat menjadi pemicu koreksi dalam jangka pendek.
Analisa Teknikal Emas: XAU/USD Masih Berpeluang Lanjutkan Kenaikan
Secara teknikal, XAU/USD mulai menunjukkan perubahan struktur bullish setelah berhasil menembus trendline menurun dan area resistance sekitar US$4.200 – 4.250. Harga kini bergerak di atas Fibonacci 23,6% – 38,2%, menandakan buyer masih memiliki kendali. Selama mampu bertahan di atas US$4.225 – 4.185, peluang penguatan menuju US$4.375 tetap terbuka.
Jika momentum berlanjut, target berikutnya berada di sekitar US$4.475, kemudian US$4.607 sebagai resistance Fibonacci 61,8%. Namun, apabila harga kembali jatuh di bawah US$4.140, tekanan jual berpotensi meningkat menuju US$4.075 – 3.995. Dengan demikian, area pullback menjadi zona penting untuk mengamati konfirmasi lanjutan sebelum mengejar kenaikan.
DISCLAIMER PT Traze Andalan Futures teregulasi oleh BAPPEBTI. Materi ini untuk referensi saja dan bukan untuk rekomendasi melakukan transaksi. Seluruh transaksi yang diambil sepenuhnya akan menjadi tanggung jawab nasabah. Transaksi Perdagangan Berjangka Komoditi (PBK) memiliki peluang keuntungan dan risiko kerugian yang tinggi
Fokus Pasar: Data NFP Amerika Serikat
Pelaku pasar kini mengalihkan perhatian pada rilis Non-Farm Payrolls (NFP) yang menjadi indikator utama kesehatan pasar tenaga kerja AS. Data ini akan menjadi acuan penting bagi Federal Reserve dalam menentukan arah kebijakan suku bunga.
NFP lebih kuat dari ekspektasi ➜ memperkuat dolar AS dan meningkatkan peluang kebijakan moneter tetap ketat, sehingga berpotensi menekan harga emas.
NFP lebih lemah dari perkiraan ➜ meningkatkan ekspektasi pelonggaran kebijakan The Fed, melemahkan dolar AS, dan menjadi katalis positif bagi emas untuk menembus resistance.
Geopolitik Masih Menjadi Faktor Pendukung
Ketegangan geopolitik di Timur Tengah masih menjadi perhatian utama investor. Meskipun terdapat sinyal diplomasi, risiko eskalasi konflik belum sepenuhnya hilang. Ketidakpastian ini menjaga permintaan terhadap aset safe haven seperti emas tetap tinggi.
Apabila terjadi peningkatan tensi geopolitik atau gangguan pasokan energi global, harga emas berpotensi memperoleh dorongan tambahan. Sebaliknya, jika upaya diplomasi menunjukkan kemajuan signifikan, minat terhadap aset berisiko dapat meningkat sehingga mengurangi permintaan terhadap emas.
Outlook Teknikal
Pergerakan XAU/USD pada timeframe H4 masih bergerak dalam pola Symmetrical Triangle, menandakan pasar berada dalam fase konsolidasi dengan volatilitas yang semakin menyempit. Resistance utama berada di area 4.120 – 4.130, sementara support kuat berada di kisaran 4.005 – 4.015. Breakout dari pola ini diperkirakan akan menentukan arah tren berikutnya.
Skenario bullish akan terkonfirmasi apabila harga mampu menembus dan ditutup di atas 4.120, membuka peluang menuju 4.150, 4.180, hingga 4.210. Sebaliknya, jika harga menembus 4.000, tekanan jual berpotensi membawa emas turun ke area 3.980, 3.950, bahkan 3.920.
Emas sedang berada di fase menunggu katalis. Kombinasi pola Symmetrical Triangle, rilis NFP, ekspektasi kebijakan The Fed, dan perkembangan geopolitik Timur Tengah berpotensi memicu pergerakan besar dalam waktu dekat. Trader disarankan menunggu konfirmasi breakout dari area 4.120 atau 4.000 sebelum mengambil posisi, karena pergerakan setelah breakout berpotensi menjadi awal tren baru yang lebih kuat.
DISCLAIMER PT Traze Andalan Futures teregulasi oleh BAPPEBTI. Materi ini untuk referensi saja dan bukan untuk rekomendasi melakukan transaksi. Seluruh transaksi yang diambil sepenuhnya akan menjadi tanggung jawab nasabah. Transaksi Perdagangan Berjangka Komoditi (PBK) memiliki peluang keuntungan dan risiko kerugian yang tinggi
Lonjakan harga minyak dalam beberapa pekan terakhir sempat mendorong pasar memperkirakan Federal Reserve (The Fed) akan kembali menaikkan suku bunga. Namun, data inflasi AS bulan Juni yang lebih rendah dari perkiraan, ditambah pelemahan pasar tenaga kerja, membuat tekanan untuk segera mengetatkan kebijakan mulai berkurang. Karena itu, The Fed diperkirakan akan mempertahankan suku bunga pada pertemuan FOMC tanggal 28 – 29 Juli 2026.
Inflasi Melandai, Alasan The Fed Belum Bergerak
Pertemuan FOMC bulan Juni menunjukkan bahwa The Fed tetap berkomitmen menjaga stabilitas harga, sekaligus meredakan kekhawatiran mengenai potensi campur tangan politik setelah Kevin Warsh menjabat sebagai Ketua The Fed. Meski demikian, proyeksi ekonomi terbaru memperlihatkan para pejabat The Fed masih terbelah mengenai perlunya kenaikan suku bunga hingga akhir tahun.
Sebelumnya, pasar memperkirakan peluang sekitar 80% untuk kenaikan suku bunga sebesar 25 basis poin. Bahkan, ekspektasi sempat meningkat menjadi sekitar satu setengah kali kenaikan. Namun, data inflasi yang lebih lemah, inflasi produsen (PPI) yang terkendali, serta Beige Book The Fed yang menunjukkan tekanan harga mulai mereda, membuat urgensi kenaikan suku bunga berkurang.
Di sisi lain, kondisi pasar tenaga kerja juga mulai melemah. Nonfarm Payrolls (NFP) bulan Juni hanya bertambah 57.000 pekerjaan, jauh di bawah rata-rata kenaikan 164.000 dalam tiga bulan sebelumnya. Dengan kombinasi inflasi yang melandai dan pertumbuhan lapangan kerja yang melemah, peluang terbesar saat ini adalah The Fed mempertahankan kebijakan moneternya. Walaupun beberapa anggota FOMC masih memperkirakan kenaikan suku bunga pada Desember, sebagian besar diperkirakan bukan merupakan anggota yang memiliki hak suara tahun ini.
Arah Kebijakan Masih Bergantung pada Harga Minyak
Perkembangan konflik di Timur Tengah tetap menjadi faktor utama yang dapat mengubah arah kebijakan The Fed. Kenaikan harga minyak telah mendorong pasar kembali memperkirakan suku bunga akan bertahan tinggi lebih lama. Dalam sepekan terakhir, ekspektasi kenaikan suku bunga pada awal 2027 meningkat sekitar 20 basis poin akibat lonjakan harga energi.
Meski begitu, pandangan tersebut belum tentu sepenuhnya tepat. Harga bensin di AS belum mengikuti pergerakan harga minyak secara penuh. Secara historis, harga minyak saat ini masih sejalan dengan harga bensin sedikit di atas US$4 per galon. Sementara itu, harga gas alam di AS tetap stabil berkat pasokan domestik yang melimpah, sehingga tekanan inflasi dari sektor energi dinilai belum cukup besar untuk memicu lonjakan inflasi baru.
Apabila ketegangan geopolitik mereda dan pasokan energi kembali normal, harga minyak berpotensi turun tajam sehingga ekspektasi kenaikan suku bunga juga akan melemah. Sebaliknya, jika konflik semakin memburuk misalnya gangguan pasokan di Laut Merah semakin meluas harga minyak dapat melonjak hingga mendekati US$120 per barel. Kondisi tersebut berpotensi mendorong inflasi kembali meningkat dan memaksa The Fed menaikkan suku bunga.
Untuk saat ini, skenario yang lebih mungkin adalah terjadinya deeskalasi konflik. Selain itu, perlambatan biaya perumahan, pertumbuhan upah yang lebih moderat, serta normalisasi rantai pasok diperkirakan akan terus membantu menekan tekanan inflasi. Namun, pasar tetap membutuhkan kepastian mengenai perkembangan situasi di Timur Tengah sebelum mengubah ekspektasi terhadap kebijakan The Fed.
Dolar AS Masih Berpotensi Tetap Kuat
Sejak konferensi pers pertama Kevin Warsh sebagai Ketua The Fed, dolar AS terus menguat terhadap mayoritas mata uang utama. Yen Jepang, franc Swiss, dan krona Swedia melemah sekitar 2%, sementara beberapa mata uang Eropa Timur bahkan terkoreksi hingga 3 – 4%. Penguatan dolar tidak hanya dipicu oleh kenaikan harga minyak, tetapi juga oleh meningkatnya ekspektasi bahwa suku bunga AS akan tetap tinggi.
Di tengah minimnya petunjuk mengenai arah kebijakan berikutnya, investor cenderung mempertahankan posisi beli dolar menjelang hasil rapat FOMC. Pasar juga masih menunggu apakah The Fed akan menganggap kenaikan imbal hasil obligasi pemerintah AS tenor 30 tahun hingga sekitar 5,20% sebagai alasan untuk mempertimbangkan pengetatan kebijakan lebih lanjut.
Diperkirakan The Fed tetap akan menghindari memberikan panduan yang jelas mengenai langkah berikutnya. Sikap tersebut kemungkinan tidak akan mengubah ekspektasi pasar yang saat ini masih melihat peluang kenaikan suku bunga sebesar 25 basis poin pada pertemuan September.
Selama konflik di Timur Tengah belum mereda dan harga energi masih bertahan tinggi, dolar AS diperkirakan tetap berada dalam tren penguatan. Dalam skenario tersebut, EUR/USD berpotensi kembali menguji area 1,13, sedangkan USD/JPY berpeluang bergerak menuju level 165. Sementara itu, mata uang dengan imbal hasil rendah dan aset berisiko di pasar negara berkembang juga diperkirakan masih akan menghadapi tekanan.
Opini Analis Teknikal Emas
Pergerakan harga emas (XAU/USD) masih bergerak di dalam pola descending channel dan saat ini sedang menguji area resistance dinamis di sekitar 4.090 – 4.100. Setelah memantul dari garis tren naik, momentum beli mulai kembali terlihat. Jika mampu menembus resistance terdekat, emas berpeluang melanjutkan kenaikan menuju area 4.145 – 4.150 yang bertepatan dengan batas atas channel.
Di sisi lain, perhatian tetap tertuju pada area support 4.022,563. Selama level tersebut tidak ditembus, peluang penguatan masih lebih dominan. Namun, apabila harga turun dan menembus support itu, skenario bullish akan batal sehingga tekanan jual berpotensi membawa emas kembali menguji area support yang lebih rendah di dalam channel.
DISCLAIMER PT Traze Andalan Futures teregulasi oleh BAPPEBTI. Materi ini untuk referensi saja dan bukan untuk rekomendasi melakukan transaksi. Seluruh transaksi yang diambil sepenuhnya akan menjadi tanggung jawab nasabah. Transaksi Perdagangan Berjangka Komoditi (PBK) memiliki peluang keuntungan dan risiko kerugian yang tinggi
Emas Kehilangan Status Safe Haven
Harga emas (XAU/USD) mengalami pergerakan yang sangat tajam sepanjang semester I 2026. Pada Januari hingga Februari, emas melonjak lebih dari 20% dan mencetak rekor tertinggi di dekat US$5.600. Namun, sejak Maret hingga akhir kuartal II, harganya berbalik turun hampir 30%. Memasuki semester II, pasar kini menantikan apakah emas mampu bangkit kembali atau justru mencatatkan kinerja tahunan terburuk sejak 2013.
Pada awal tahun, reli emas didorong oleh ekspektasi bahwa Federal Reserve akan lebih longgar dalam kebijakan moneternya. Meningkatnya peluang Kevin Warsh menggantikan Jerome Powell sebagai Ketua The Fed membuat imbal hasil obligasi AS dan dolar AS melemah, sehingga mendukung kenaikan harga emas.
Di saat yang sama, ketegangan geopolitik di Timur Tengah juga meningkatkan permintaan terhadap emas sebagai aset safe haven. Ancaman intervensi militer AS terhadap Iran membuat investor mencari aset yang dianggap lebih aman.
Namun, pada akhir Januari harga emas sempat terkoreksi meski masih mencatat kenaikan bulanan sekitar 13%. Setelah Kevin Warsh resmi dicalonkan, pasar menerapkan strategi buy the rumor, sell the fact. Investor juga mulai menilai bahwa Warsh cenderung mendukung kebijakan moneter yang ketat sehingga belum tentu akan mengikuti keinginan Presiden Donald Trump untuk memangkas suku bunga.
Momentum positif kembali berlanjut pada Februari karena banyak investor memanfaatkan koreksi harga untuk membeli emas. World Gold Council (WGC) melaporkan bahwa ETF emas global kembali mencatat arus dana masuk sebesar US$5,3 miliar, menjadi awal tahun terkuat dalam setahun terakhir dan menandai sembilan bulan berturut-turut terjadi aliran dana positif.
Situasi berubah drastis setelah Israel dan Amerika Serikat melancarkan operasi militer terhadap Iran pada 28 Februari.
Sejak saat itu, emas mulai kehilangan daya tarik sebagai aset safe haven. Lonjakan harga minyak memicu kekhawatiran inflasi yang lebih tinggi sehingga pasar memperkirakan kebijakan suku bunga akan tetap ketat. Akibatnya, harga emas turun hampir 12% pada Maret, lalu bergerak relatif stabil namun masih melemah pada April dan Mei.
Kesepakatan gencatan senjata sementara antara AS dan Iran pada awal April sempat membantu menahan penurunan emas. Namun, meskipun kedua negara kemudian menandatangani Memorandum of Understanding (MoU) pada pertengahan Juni dan membuka kembali Selat Hormuz, harga emas tetap tertekan.
Tekanan semakin besar setelah data inflasi dan pasar tenaga kerja AS menunjukkan hasil yang kuat. Ketua The Fed, Kevin Warsh, juga menegaskan bahwa pengendalian inflasi tetap menjadi prioritas utama. Kondisi ini meningkatkan ekspektasi kenaikan suku bunga dan mendorong XAU/USD turun ke bawah level US$4.000, menjadi titik terendah sepanjang 2026.
Tiga Skenario Pergerakan Emas pada Semester II 2026
Pergerakan emas pada semester pertama menunjukkan bahwa faktor fundamental kini lebih dominan dibandingkan sentimen geopolitik. Karena itu, investor perlu memperhatikan perkembangan inflasi, arah kebijakan bank sentral, serta permintaan dari investor institusi untuk menentukan arah harga emas pada semester kedua.
Skenario Bullish
Agar emas kembali menguat, pasar membutuhkan perubahan besar pada sentimen global. Penurunan harga minyak saja tidak cukup untuk mendorong reli. Yang lebih penting adalah munculnya sinyal bahwa bank-bank sentral, khususnya The Fed, mulai bersikap lebih dovish.
Syarat pertama adalah berakhirnya konflik Timur Tengah secara permanen. Jika risiko gangguan pasokan energi benar-benar mereda, kekhawatiran terhadap lonjakan harga minyak juga akan berkurang.
Selanjutnya, inflasi AS perlu menunjukkan penurunan secara konsisten selama beberapa bulan. Jika The Fed mulai yakin inflasi kembali menuju target 2%, pasar dapat beralih dari ekspektasi kenaikan suku bunga menjadi peluang penurunan suku bunga pada awal 2027. Kondisi ini berpotensi menekan imbal hasil obligasi dan melemahkan dolar AS, sehingga menjadi katalis positif bagi emas.
Saat ini, CME FedWatch Tool masih menunjukkan peluang sekitar 85% bahwa The Fed akan menaikkan suku bunga setidaknya 25 basis poin sebelum akhir 2026.
Selain itu, pemilu paruh waktu AS juga berpotensi menjadi faktor pendukung. Jika hasil pemilu meningkatkan ketidakpastian politik, investor kemungkinan kembali mencari aset aman seperti emas.
Skenario Bearish
Sebaliknya, emas berpotensi melanjutkan pelemahan apabila inflasi tetap tinggi. Konflik Timur Tengah yang berkepanjangan dan kenaikan harga energi menjelang musim dingin dapat kembali mendorong inflasi.
Dalam kondisi tersebut, The Fed kemungkinan mempertahankan sikap hawkish bahkan menaikkan suku bunga lebih dari satu kali. Ekonomi AS yang tetap kuat serta pasar tenaga kerja yang solid juga akan semakin memperkuat kebijakan tersebut.
Meski harga minyak turun, inflasi masih bisa bertahan tinggi karena meningkatnya investasi besar-besaran pada sektor kecerdasan buatan (Artificial Intelligence/AI). Gubernur The Fed, Lisa Cook, menjelaskan bahwa pembangunan infrastruktur AI telah meningkatkan permintaan terhadap chip, perangkat teknologi, perangkat lunak, dan utilitas sehingga ikut mendorong kenaikan harga.
Jika skenario ini terjadi, ruang penurunan emas memang masih terbuka. Namun, permintaan jangka panjang dari bank sentral dan investor institusi diperkirakan tetap menjadi penyangga yang membatasi penurunan lebih dalam.
World Gold Council juga menilai bahwa semakin banyak bank sentral, dana pensiun, sovereign wealth fund, dan investor jangka panjang yang terus menambah kepemilikan emas sebagai bagian dari strategi diversifikasi aset.
Skenario Netral
Pada skenario ini, inflasi AS masih bertahan tetapi tidak semakin tinggi, sementara pertumbuhan ekonomi mulai melambat. Kondisi tersebut membuat The Fed memilih menahan suku bunga lebih lama.
Di sisi geopolitik, konflik Timur Tengah belum benar-benar berakhir, tetapi tetap terkendali melalui gencatan senjata sementara dan jalur diplomasi. Situasi ini membuat harga minyak relatif stabil sehingga tekanan inflasi juga tidak meningkat tajam.
Dalam kondisi tersebut, harga emas berpeluang bergerak dalam fase konsolidasi tanpa tren naik maupun turun yang dominan.
Pandangan Penulis
Dari ketiga skenario tersebut, peluang terjadinya penurunan tajam kembali tampaknya relatif lebih kecil. Permintaan jangka panjang dari bank sentral dan investor institusi diperkirakan akan meningkat setiap kali harga emas mengalami koreksi yang cukup dalam.
Berbeda dengan tahun 2013, pembelian emas oleh bank sentral kini jauh lebih merata. Menurut World Gold Council, pembelian bersih bank sentral pada kuartal I 2026 mencapai 244 ton, dan sejumlah negara seperti Indonesia, Malaysia, serta Guatemala mulai kembali menambah cadangan emas mereka.
Fenomena masuknya bank-bank sentral baru ke pasar emas menunjukkan bahwa diversifikasi cadangan devisa masih terus berlangsung. Faktor ini berpotensi menjadi penopang harga emas sepanjang semester II 2026.
Dengan mempertimbangkan kondisi tersebut, skenario yang paling realistis adalah emas bergerak dalam fase konsolidasi dengan peluang rebound secara bertahap apabila tekanan inflasi mulai mereda dan The Fed mengurangi sikap hawkish.
Pandangan Para Analis
TD Securities menilai kenaikan biaya energi dapat meningkatkan peluang kenaikan suku bunga The Fed sehingga memberikan tekanan terhadap emas dan perak. Mereka juga melihat investor mulai mengurangi posisi beli pada kedua logam mulia tersebut.
Commerzbank berpendapat arah emas lebih banyak ditentukan oleh perubahan ekspektasi kebijakan The Fed daripada perkembangan geopolitik. Jika pasar mulai mengurangi ekspektasi kenaikan suku bunga, emas berpotensi kembali menguat.
BNY Mellon mencatat semakin banyak bank sentral yang mengurangi ketergantungan terhadap dolar AS dan meningkatkan kepemilikan emas sebagai bagian dari strategi diversifikasi cadangan devisa.
Sementara itu, OCBC menurunkan proyeksi harga emas akhir 2026 menjadi sekitar US$4.360 per ounce. Bank tersebut menilai penguatan dolar AS, tingginya imbal hasil riil, serta sikap hawkish The Fed masih menjadi tantangan utama bagi pergerakan emas dalam jangka pendek.
DISCLAIMER PT Traze Andalan Futures teregulasi oleh BAPPEBTI. Materi ini untuk referensi saja dan bukan untuk rekomendasi melakukan transaksi. Seluruh transaksi yang diambil sepenuhnya akan menjadi tanggung jawab nasabah. Transaksi Perdagangan Berjangka Komoditi (PBK) memiliki peluang keuntungan dan risiko kerugian yang tinggi
Sentimen pasar global pekan ini diperkirakan masih dipengaruhi oleh perkembangan konflik antara Amerika Serikat (AS) dan Iran. Meningkatnya tensi geopolitik berpotensi menjaga volatilitas harga energi tetap tinggi sekaligus memengaruhi ekspektasi kebijakan suku bunga bank sentral. Di saat yang sama, investor akan mencermati serangkaian laporan keuangan perusahaan teknologi besar seperti Alphabet, Intel, Tesla, dan GE Vernova untuk mengukur keberlanjutan momentum pertumbuhan sektor kecerdasan buatan (AI).
Dari sisi ekonomi, perhatian pelaku pasar akan tertuju pada sejumlah indikator utama Amerika Serikat, termasuk S&P PMI, Conference Board Leading Economic Index, dan survei manufaktur Federal Reserve regional. Data tersebut akan menjadi acuan penting dalam menilai kondisi aktivitas ekonomi sekaligus memberikan petunjuk terhadap arah kebijakan moneter The Federal Reserve pada pertemuan berikutnya.
Peluang Pasar KomoditasEmas
Emas berpeluang mempertahankan tren positif apabila ketidakpastian geopolitik terus meningkat dan ekspektasi penurunan suku bunga kembali menguat. Logam mulia ini diperkirakan tetap menjadi aset lindung nilai utama di tengah tingginya volatilitas pasar keuangan. Namun, penguatan dolar AS atau kenaikan imbal hasil obligasi berpotensi membatasi ruang kenaikan harga emas dalam jangka pendek.
Pola Bullish Shark pada grafik XAU/USD timeframe 4 jam mengindikasikan peluang pembalikan arah setelah harga berhasil bertahan di area support kuat sekitar 3.942. Selama level tersebut tidak ditembus, emas berpotensi melanjutkan pemulihan menuju 4.103 sebagai target awal, dengan peluang penguatan lanjutan ke area 4.139 apabila momentum beli semakin dominan. Meski demikian, penembusan di bawah support akan membatalkan skenario bullish dan membuka ruang koreksi yang lebih dalam, sehingga pelaku pasar disarankan menunggu konfirmasi pergerakan harga sebelum mengambil posisi.
Peluang Pasar KomoditasMinyak WTI
Sementara itu, minyak mentah WTI memiliki peluang melanjutkan penguatan apabila konflik di Timur Tengah memicu kekhawatiran terhadap gangguan pasokan global. Risiko geopolitik diperkirakan menjadi katalis utama yang menopang harga minyak. Meski demikian, potensi perlambatan ekonomi global dan pelemahan permintaan energi tetap menjadi faktor yang perlu diwaspadai karena dapat membatasi kenaikan harga WTI.
Harga WTI Oil masih bergerak dalam tren naik dengan bertahan di dalam pola ascending channel, menandakan momentum bullish tetap terjaga selama harga mampu bertahan di atas demand zone area 78,07. Peluang kenaikan terbuka menuju level 84,40 sebagai target terdekat, bahkan berpotensi berlanjut ke 89,77 yang merupakan area supply zone sekaligus zona resistensi kuat apabila tekanan beli terus meningkat. Namun, apabila harga gagal mempertahankan area demand dan keluar dari struktur kenaikan, risiko koreksi menuju level support yang lebih rendah akan kembali meningkat sehingga konfirmasi pergerakan harga tetap menjadi faktor utama sebelum mengambil keputusan transaksi.
DISCLAIMER PT Traze Andalan Futures teregulasi oleh BAPPEBTI. Materi ini untuk referensi saja dan bukan untuk rekomendasi melakukan transaksi. Seluruh transaksi yang diambil sepenuhnya akan menjadi tanggung jawab nasabah. Transaksi Perdagangan Berjangka Komoditi (PBK) memiliki peluang keuntungan dan risiko kerugian yang tinggi
Pergerakan XAUUSD pada grafik 4 jam masih berada dalam pola descending channel, menandakan tren bearish belum berakhir. Harga sempat memantul dari area psikologis 4.000, namun kenaikan tersebut masih bersifat terbatas karena tertahan oleh garis resistance dinamis. Selama belum mampu menembus area 4.134, tekanan jual diperkirakan masih mendominasi.
Dalam jangka pendek, emas berpotensi mengalami rebound menuju area resistance untuk menguji kekuatan penjual. Jika kembali gagal menembus garis tren turun, peluang terjadinya penurunan lanjutan akan semakin besar. Kondisi ini mengindikasikan bahwa setiap kenaikan masih berpotensi dimanfaatkan pelaku pasar sebagai momentum untuk melakukan aksi jual.
Skenario bearish akan tetap menjadi fokus selama harga bergerak di bawah 4.134. Apabila tekanan jual meningkat, XAUUSD berpeluang melanjutkan pelemahan menuju target area 3.850 – 3.900 yang menjadi zona support berikutnya. Sebaliknya, penembusan yang kuat di atas resistance akan membatalkan skenario ini dan membuka peluang perubahan tren ke arah yang lebih positif.
DISCLAIMER PT Traze Andalan Futures teregulasi oleh BAPPEBTI. Materi ini untuk referensi saja dan bukan untuk rekomendasi melakukan transaksi. Seluruh transaksi yang diambil sepenuhnya akan menjadi tanggung jawab nasabah. Transaksi Perdagangan Berjangka Komoditi (PBK) memiliki peluang keuntungan dan risiko kerugian yang tinggi