Harga emas melemah di bawah US$4.600 per troy ounce pada Jumat (28/08) dan berpotensi menutup pekan dengan koreksi penurunan tipis. Investor masih menahan diri menjelang pidato Ketua Federal Reserve Kevin Warsh dalam simposium Jackson Hole malam ini, yang dinilai penting untuk membaca arah kebijakan suku bunga AS.

Pelaku pasar kini memperkirakan sekitar 66% peluang The Fed mempertahankan suku bunga pada pertemuan September. Namun, inflasi AS yang lebih panas dari perkiraan kembali memperkuat ekspektasi kenaikan sebelum akhir tahun, dengan probabilitas mencapai lebih dari 70% pada Desember. Kondisi ini menjadi tekanan bagi emas karena suku bunga tinggi cenderung mengurangi daya tarik aset tanpa imbal hasil.

Di sisi lain, prospek jangka panjang emas tetap mendapat dukungan dari kekhawatiran pelemahan dolar dan risiko krisis utang AS setelah Departemen Keuangan memperluas pembelian kembali obligasi. Gejolak geopolitik juga menjaga harga minyak tetap tinggi, terutama akibat eskalasi perang Rusia-Ukraina meski terdapat tanda kemajuan diplomatik di Timur Tengah.

OPINI ANALIS TRAZE

Pergerakan harga emas saat ini berada di sekitar US$4.578 setelah mengalami tekanan dari area resistance. Pada grafik 15 menit, zona US$4.575 menjadi support penting, sementara level Fibonacci 23,6% di US$4.585 dan 38,2% di US$4.592 menjadi penghalang awal bagi pemulihan. Jika mampu menembus US$4.602, peluang bullish terbuka menuju US$4.618 sebagai resistance utama.

Namun, selama harga belum kembali di atas US$4.602, tekanan jual masih berpotensi berlanjut. Penembusan support US$4.575 dapat membuka ruang penurunan menuju US$4.563 sebagai target pertama, lalu US$4.549 sebagai target berikutnya. Skenario bearish ini sejalan dengan struktur pada grafik yang menunjukkan potensi retest area bawah sebelum emas mencoba membangun momentum baru.

DISCLAIMER
PT Traze Andalan Futures teregulasi oleh BAPPEBTI.
Materi ini untuk referensi saja dan bukan untuk rekomendasi melakukan transaksi. Seluruh transaksi yang
diambil sepenuhnya akan menjadi tanggung jawab nasabah. Transaksi Perdagangan Berjangka Komoditi
(PBK) memiliki peluang keuntungan dan risiko kerugian yang tinggi

Indeks dolar AS diperdagangkan di atas level 99 pada Kamis (27/08) setelah menguat pada sesi sebelumnya. Penguatan greenback ditopang data ekonomi Amerika Serikat yang lebih kuat dari perkiraan, sehingga meningkatkan peluang Federal Reserve menaikkan suku bunga sebelum akhir tahun.

Tekanan inflasi turut menjadi perhatian setelah indeks harga PCE naik 0,2% secara bulanan pada Juli, melampaui estimasi 0,1%. Secara tahunan, inflasi mencapai 3,7%, sedikit di atas proyeksi 3,6%. Investor kini menanti pidato Ketua Fed Kevin Warsh di simposium Jackson Hole untuk mencari petunjuk mengenai arah kebijakan moneter berikutnya.

Di sisi lain, penurunan harga minyak membantu meredakan kekhawatiran inflasi dalam jangka pendek seiring munculnya tanda-tanda kemajuan diplomasi di Timur Tengah. Pasar juga mencermati program pembelian kembali utang AS yang diperluas serta risiko fiskal Amerika, yang berpotensi memengaruhi pergerakan dolar dan sentimen pasar global.

OPINI ANALIS TRAZE

Indeks Dolar AS (DXY) terlihat menghadapi tekanan setelah gagal menembus area resistance 99,45 – 99,78. Struktur harga menunjukkan potensi pembalikan bearish, terlebih jika DXY kembali turun di bawah support 99,02. Kondisi tersebut dapat membuka ruang pelemahan menuju area 98,84 hingga 98,62 sebagai target penurunan terdekat.

Jika tekanan jual semakin kuat, DXY berpeluang melanjutkan koreksi menuju 98,26. Bahkan, berdasarkan proyeksi Fibonacci, target berikutnya berada di sekitar 97,85 dan 97,32. Sebaliknya, skenario bearish akan batal apabila harga mampu menembus dan bertahan di atas 99,78, yang berpotensi mengembalikan momentum bullish.

DISCLAIMER
PT Traze Andalan Futures teregulasi oleh BAPPEBTI.
Materi ini untuk referensi saja dan bukan untuk rekomendasi melakukan transaksi. Seluruh transaksi yang
diambil sepenuhnya akan menjadi tanggung jawab nasabah. Transaksi Perdagangan Berjangka Komoditi
(PBK) memiliki peluang keuntungan dan risiko kerugian yang tinggi

Harga Perak (XAG/USD) kembali menguat setelah melemah pada sesi sebelumnya, dengan harga bergerak di sekitar US$69,10 per troy ounce dalam perdagangan Asia, Kamis (27/08). Investor kini mencermati pidato Ketua Federal Reserve Kevin Warsh di simposium Jackson Hole pada Jumat, yang berpotensi memberikan petunjuk mengenai arah kebijakan moneter AS.

Pergerakan XAG/USD turut dipengaruhi data inflasi terbaru. Indeks harga PCE AS pada Juli meningkat 0,2% secara bulanan, di atas perkiraan 0,1%, sementara inflasi tahunan naik menjadi 3,7%. Kondisi tersebut membuat pasar semakin berhati-hati dalam membaca peluang perubahan suku bunga The Fed pada pertemuan mendatang.

Di luar faktor kebijakan moneter, prospek Perak tetap ditopang oleh permintaan sebagai aset lindung nilai terhadap risiko pelemahan dolar dan kekhawatiran utang AS. Fundamental industri juga menjadi katalis positif, terutama dari kebutuhan panel surya, kendaraan listrik, teknologi energi hijau, serta pembangunan infrastruktur pusat data berbasis kecerdasan buatan.

OPINI ANALIS TRAZE

Pergerakan XAG/USD masih menunjukkan bias bullish setelah mampu bertahan di area koreksi 68,57 – 68,32. Selama harga bergerak di atas zona tersebut, peluang melanjutkan penguatan tetap terbuka. Resistance terdekat berada di 69,63, dan penembusan area ini dapat menjadi sinyal positif bagi pembeli untuk mendorong harga lebih tinggi.

Jika momentum berlanjut, target XAG/USD berikutnya berada di 70,21, kemudian 70,95. Sebaliknya, kegagalan mempertahankan 68,32 berpotensi memicu tekanan menuju 67,96. Area 67,51 menjadi batas invalidasi skenario bullish, sehingga pergerakan di sekitar level tersebut perlu diperhatikan sebelum mengambil keputusan trading.

DISCLAIMER
PT Traze Andalan Futures teregulasi oleh BAPPEBTI.
Materi ini untuk referensi saja dan bukan untuk rekomendasi melakukan transaksi. Seluruh transaksi yang
diambil sepenuhnya akan menjadi tanggung jawab nasabah. Transaksi Perdagangan Berjangka Komoditi
(PBK) memiliki peluang keuntungan dan risiko kerugian yang tinggi

Harga minyak mentah turun di bawah US$82 per barel pada Kamis (27/08), memperpanjang pelemahan untuk sesi keempat berturut-turut. Tekanan datang dari tanda-tanda kemajuan diplomatik di Timur Tengah setelah Iran dan Oman mencapai kesepakatan terkait pembagian wilayah perairan serta pendapatan di sekitar Selat Hormuz.

Sentimen negatif semakin kuat setelah Presiden Donald Trump menyebut sekitar 10 juta barel minyak telah melewati Selat Hormuz pada Selasa dan mengklaim ranjau di jalur strategis tersebut telah dibersihkan. Selain itu, sanksi ekonomi terbaru Amerika Serikat terhadap Iran dinilai tidak sekeras perkiraan pasar, sementara mitra dagang Tehran sejauh ini masih terhindar dari tekanan yang lebih berat.

Meski risiko gangguan pasokan mulai mereda, pasar energi tetap menghadapi ketidakpastian geopolitik. Rencana Rusia untuk meningkatkan eskalasi di Ukraina turut menjaga kekhawatiran terhadap pasokan global, sehingga arah harga minyak berikutnya masih akan sangat dipengaruhi perkembangan Timur Tengah dan konflik Rusia-Ukraina.

OPINI ANALIS TRAZE

Secara teknikal, WTI Oil masih berada dalam tekanan bearish setelah gagal mempertahankan momentum kenaikan dan kembali bergerak di sekitar US$81,40. Harga saat ini memasuki area koreksi US$81,46 – US$82,15, yang menjadi zona penting untuk menguji kekuatan seller. Selama belum mampu menembus US$82,84, peluang harga berbalik melemah masih terbuka.

Jika tekanan jual kembali muncul, US$80,53 menjadi target penurunan pertama, diikuti US$79,91 sebagai target berikutnya. Sebaliknya, penembusan kuat di atas US$82,84 dapat membatalkan skenario bearish dan membuka ruang menuju US$83,96. Trader perlu mencermati respons harga di zona koreksi untuk menentukan arah berikutnya.

DISCLAIMER
PT Traze Andalan Futures teregulasi oleh BAPPEBTI.
Materi ini untuk referensi saja dan bukan untuk rekomendasi melakukan transaksi. Seluruh transaksi yang
diambil sepenuhnya akan menjadi tanggung jawab nasabah. Transaksi Perdagangan Berjangka Komoditi
(PBK) memiliki peluang keuntungan dan risiko kerugian yang tinggi

Harga emas kembali menguat pada perdagangan Kamis (27/08) dan bergerak mendekati level US$4.650 per ounce, setelah berhasil memangkas sebagian besar penurunan pada sesi sebelumnya. Pergerakan ini terjadi karena pelaku pasar masih mencermati arah kebijakan suku bunga Federal Reserve (The Fed) menjelang pertemuan penting bulan depan.

Sentimen pasar dipengaruhi oleh data inflasi Amerika Serikat yang menunjukkan indeks PCE pada Juli naik lebih tinggi dari perkiraan dan masih berada di atas target The Fed. Kondisi tersebut memperkuat ekspektasi bahwa bank sentral AS akan tetap berhati-hati dalam menentukan kebijakan moneternya. Fokus investor kini tertuju pada pidato Ketua The Fed, Kevin Warsh, dalam simposium tahunan Jackson Hole yang dijadwalkan berlangsung Jumat.

Di sisi lain, harga emas tetap bertahan di dekat level tertinggi dalam tiga bulan terakhir karena meningkatnya permintaan aset lindung nilai. Kekhawatiran terhadap potensi krisis utang Amerika Serikat serta pelemahan dolar AS mendorong minat investor terhadap logam mulia. Selain itu, impor bersih emas China melalui Hong Kong pada Juli tercatat naik sekitar 11% dibanding bulan sebelumnya, didukung oleh permintaan investasi yang semakin kuat.

OPINI ANALIS TRAZE

Secara teknikal, XAU/USD mulai menunjukkan pemulihan setelah memantul dari area support US$4.582 dan kembali bergerak di atas US$4.620. Struktur harga mengindikasikan peluang bullish selama level US$4.606 tetap bertahan sebagai support kunci. Jika momentum beli berlanjut, emas berpotensi menguji US$4.660 sebagai target pertama, kemudian US$4.681.

Namun, tekanan jual masih perlu diwaspadai jika harga gagal mempertahankan area US$4.606. Penurunan di bawah level tersebut dapat membuka ruang koreksi menuju US$4.583 sebagai support utama sekaligus batas invalidasi skenario bullish. Selama harga mampu bertahan di atas zona tersebut, bias XAU/USD masih cenderung positif dengan peluang mengarah kembali ke area US$4.700.

DISCLAIMER
PT Traze Andalan Futures teregulasi oleh BAPPEBTI.
Materi ini untuk referensi saja dan bukan untuk rekomendasi melakukan transaksi. Seluruh transaksi yang
diambil sepenuhnya akan menjadi tanggung jawab nasabah. Transaksi Perdagangan Berjangka Komoditi
(PBK) memiliki peluang keuntungan dan risiko kerugian yang tinggi

Harga Perak menguat hampir 1% ke sekitar US$69,40 pada sesi Asia Rabu (26/08), ketika meredanya kekhawatiran pasokan energi global memberi ruang bagi logam putih untuk bergerak lebih tinggi. Harapan dibukanya kembali Selat Hormuz setelah Iran dan Oman melanjutkan pembahasan koridor maritim sementara turut menekan harga minyak, sehingga risiko inflasi akibat gangguan energi berkepanjangan mulai mereda.

Fokus pasar kini beralih ke data inflasi PCE Amerika Serikat untuk Juli yang akan menjadi petunjuk arah kebijakan Federal Reserve. Inflasi PCE inti diperkirakan bertahan di 3,3% secara tahunan, sementara kenaikan bulanan diproyeksikan mencapai 0,2%. Jika tekanan harga tetap tinggi, ruang bagi The Fed untuk melonggarkan kebijakan moneter akan semakin terbatas, kondisi yang berpotensi memengaruhi pergerakan Perak.

Selain PCE, perhatian investor tertuju pada Simposium Jackson Hole yang dimulai Kamis. Pernyataan Ketua The Fed Kevin Warsh akan menjadi sorotan untuk mencari petunjuk mengenai arah suku bunga. Jika bank sentral tetap fokus menekan inflasi dan mempertahankan kebijakan ketat lebih lama, Perak dapat menghadapi volatilitas, meski prospek permintaan aset lindung nilai tetap memberikan dukungan bagi harga Perak.

OPINI ANALIS TRAZE

Analisa teknikal XAU/USD menunjukkan harga masih memiliki peluang melanjutkan penguatan setelah bertahan di zona support 68,19 – 68,78. Struktur pergerakan pada grafik 30 menit juga memperlihatkan momentum bullish, dengan area 68,77 sebagai level penting yang perlu dipertahankan. Selama harga berada di atas support tersebut, skenario kenaikan masih lebih dominan.

Jika tekanan beli berlanjut, target terdekat berada di 70,14, kemudian 70,67 sebagai target lanjutan. Namun, apabila harga gagal mempertahankan 68,77, koreksi berpotensi menguji 68,19. Karena itu, trader perlu memperhatikan reaksi harga di sekitar level support dan resistance sebelum menentukan posisi.

DISCLAIMER
PT Traze Andalan Futures teregulasi oleh BAPPEBTI.
Materi ini untuk referensi saja dan bukan untuk rekomendasi melakukan transaksi. Seluruh transaksi yang
diambil sepenuhnya akan menjadi tanggung jawab nasabah. Transaksi Perdagangan Berjangka Komoditi
(PBK) memiliki peluang keuntungan dan risiko kerugian yang tinggi

Harga minyak mentah kembali melemah menuju US$80 per barel pada Rabu (26/08), memperpanjang penurunan untuk sesi ketiga berturut-turut. Tekanan muncul setelah Iran dan Oman membahas pembentukan koridor maritim sementara di Selat Hormuz, yang dinilai dapat membantu menjaga kelancaran lalu lintas kapal serta meredakan kekhawatiran terhadap pasokan energi global.

Pembicaraan teknis kedua negara akan berlanjut untuk membahas mekanisme pengelolaan selat, pertukaran informasi, pengaturan lalu lintas, hingga layanan keamanan dan maritim. Upaya diplomasi juga mendapat dukungan dari Pakistan dan Qatar yang terus mendorong penyelesaian ketegangan melalui jalur negosiasi.

Sentimen pasar minyak semakin tertekan setelah langkah terbaru Washington terhadap Iran dinilai tidak sekeras perkiraan sebelumnya. Keputusan Amerika Serikat untuk tidak menerapkan sanksi sekunder terhadap mitra dagang Teheran mengurangi risiko gangguan pasokan, sehingga harga minyak WTI menghadapi tekanan lebih besar dalam jangka pendek.

OPINI ANALIS TRAZE

Secara teknikal, harga minyak WTI masih berada dalam tekanan bearish setelah membentuk rangkaian penurunan pada grafik 30 menit. Area US$79,66 menjadi support terdekat, sementara peluang rebound dapat terbuka jika harga mampu menembus zona US$80,85 – US$81,17. Konfirmasi Change of Character (CHoCH) di sekitar US$81,12 menjadi sinyal penting untuk melihat perubahan momentum jangka pendek.

Namun, selama harga gagal melewati US$81,17, skenario penurunan tetap lebih dominan. Jika support US$79,66 ditembus, WTI berpotensi melanjutkan pelemahan menuju target US$79,01 dan US$78,19. Sebaliknya, kenaikan di atas US$81,17 dapat membuka ruang menuju resistance US$82,03 sekaligus membatalkan skenario bearish.

DISCLAIMER
PT Traze Andalan Futures teregulasi oleh BAPPEBTI.
Materi ini untuk referensi saja dan bukan untuk rekomendasi melakukan transaksi. Seluruh transaksi yang
diambil sepenuhnya akan menjadi tanggung jawab nasabah. Transaksi Perdagangan Berjangka Komoditi
(PBK) memiliki peluang keuntungan dan risiko kerugian yang tinggi

Harga emas bertahan di sekitar US$4.650 pada awal perdagangan Rabu pagi (26/08) setelah bergerak naik-turun pada sesi sebelumnya. Investor kini menunggu data PCE Amerika Serikat malam ini untuk mencari petunjuk mengenai arah kebijakan suku bunga The Fed. Hasil data tersebut berpotensi memengaruhi pergerakan dolar AS sekaligus menentukan arah logam mulia yang tidak memberikan imbal hasil.

Tekanan terhadap dolar mulai meningkat seiring munculnya harapan baru terkait kesepakatan damai antara AS dan Iran. Di saat yang sama, harga minyak yang melemah serta penurunan imbal hasil obligasi AS turut mengurangi daya tarik mata uang Negeri Paman Sam. Kondisi ini menjadi faktor pendukung bagi emas untuk tetap bertahan di level tinggi.

Peluang pengetatan kebijakan The Fed dalam waktu dekat juga semakin mengecil, memberikan ruang bagi harga emas untuk mempertahankan momentum positif. Jika data PCE menunjukkan tekanan inflasi yang mereda, ekspektasi pelonggaran kebijakan dapat kembali menguat dan berpotensi mendorong XAU/USD lebih tinggi.

OPINI ANALIS TRAZE

Pergerakan harga XAU/USD pada time frame 30 menit masih bergerak dalam tekanan bearish setelah gagal menembus area resistance 4.657. Level tersebut bertepatan dengan rasio Fibonacci 61,8% sehingga menjadi penghalang penting bagi pembeli. Selama harga bertahan di bawah 4.657, peluang koreksi menuju 4.630 masih terbuka, dengan support berikutnya berada di sekitar 4.618.

Jika tekanan jual semakin kuat, penurunan dapat berlanjut menuju 4.602 sebagai target berikutnya. Sebaliknya, skenario bearish mulai kehilangan validitas apabila harga mampu menembus 4.657 dan terutama 4.674. Breakout di atas area tersebut berpotensi membuka ruang kenaikan menuju 4.702. Untuk saat ini, bias XAU/USD tetap bearish selama resistance kunci belum berhasil direbut kembali.

DISCLAIMER
PT Traze Andalan Futures teregulasi oleh BAPPEBTI.
Materi ini untuk referensi saja dan bukan untuk rekomendasi melakukan transaksi. Seluruh transaksi yang
diambil sepenuhnya akan menjadi tanggung jawab nasabah. Transaksi Perdagangan Berjangka Komoditi
(PBK) memiliki peluang keuntungan dan risiko kerugian yang tinggi

Harga perak melemah 1,6% ke sekitar $67,87 pada perdagangan Asia, Selasa (25/08). Tekanan muncul saat investor memilih berhati-hati menjelang rilis data inflasi PCE Amerika Serikat untuk Juli pada Rabu.

Perhatian utama tertuju pada inflasi inti PCE, indikator yang menjadi acuan penting Federal Reserve dalam menentukan arah kebijakan moneter. Jika angka inflasi kembali tinggi, peluang suku bunga bertahan lebih lama dapat meningkat, sehingga berpotensi menekan aset tanpa imbal hasil seperti perak.

Selain data PCE, pasar juga menunggu komentar Ketua The Fed Kevin Warsh dalam Simposium Jackson Hole pada akhir pekan nanti. Sinyal mengenai risiko inflasi dan arah suku bunga akan menjadi perhatian utama karena dapat menentukan apakah perak mampu bangkit atau justru melanjutkan tekanan jual.

OPINI ANALIS TRAZE

Pergerakan harga XAG/USD terlihat mengalami koreksi setelah gagal bertahan di area puncak $69,96. Pada grafik 30 menit, tekanan jual masih terbuka selama harga berada di bawah resistance $68,74 – $69,44. Jika zona tersebut kembali ditembus, peluang penguatan menuju $69,96 menjadi semakin besar. Pergerakan perak juga masih cukup volatil, sejalan dengan kondisi pasar yang menunjukkan harga berada di sekitar $68 setelah sempat mendekati $70.

Dari sisi bawah, support terdekat berada di $68,45 dan $68,09, kemudian $67,51 menjadi area penting untuk menjaga struktur harga. Jika level tersebut ditembus, XAG/USD berpotensi melanjutkan penurunan menuju $66,84 hingga $65,99. Sebaliknya, kemampuan harga merebut kembali $68,74 akan menjadi sinyal awal pemulihan dan membuka ruang untuk menguji kembali area supply di sekitar $69,44 – $69,96.

DISCLAIMER
PT Traze Andalan Futures teregulasi oleh BAPPEBTI.
Materi ini untuk referensi saja dan bukan untuk rekomendasi melakukan transaksi. Seluruh transaksi yang
diambil sepenuhnya akan menjadi tanggung jawab nasabah. Transaksi Perdagangan Berjangka Komoditi
(PBK) memiliki peluang keuntungan dan risiko kerugian yang tinggi

Harga minyak mentah naik menuju US$86 per barel pada Selasa (25/08), memangkas sebagian penurunan sesi sebelumnya. Penguatan terjadi setelah Amerika Serikat memperketat tekanan ekonomi terhadap Iran dan negara-negara yang masih bertransaksi dengan Teheran, termasuk China yang dilaporkan tidak mendapat pengecualian.

Menteri Keuangan AS Scott Bessent menyatakan Washington akan mengisolasi Iran melalui sanksi, sementara Presiden Donald Trump memberi tenggat bagi negara terkait untuk menghentikan hubungan dengan Teheran atau menghadapi sanksi sepihak. Kebijakan ini membuat pasar menimbang apakah tekanan tersebut dapat mempercepat penyelesaian konflik AS-Iran atau justru menunda pembukaan kembali jalur pelayaran di Selat Hormuz.

Risiko terhadap pasokan energi Timur Tengah juga masih tinggi. Angkatan Laut Inggris melaporkan sebuah kapal tanker minyak terkena serangan hingga tidak dapat beroperasi di dekat Oman, sementara kelompok Houthi yang didukung Iran mengklaim menyerang supertanker Saudi di Laut Merah. Kondisi tersebut menjaga harga minyak WTI tetap sensitif terhadap perkembangan geopolitik dan potensi gangguan distribusi energi.

OPINI ANALIS TRAZE

Pergerakan harga Minyak WTI berada di sekitar $84,66 per barel, tepat di area Fibonacci 61,8% yang menjadi support penting. Selama level $84,24 tidak ditembus, struktur teknikal masih memberikan peluang bagi minyak untuk melanjutkan penguatan. Pergerakan di atas $84,92 dapat menjadi sinyal awal munculnya momentum bullish.

Jika tekanan beli semakin kuat, WTI berpeluang menguji $85,33 sebagai resistance utama, kemudian bergerak menuju $85,63 dan $86,01. Sebaliknya, penurunan di bawah $84,24 akan melemahkan skenario kenaikan dan membuka ruang koreksi lebih dalam. Fokus utama trader kini berada pada kemampuan WTI bertahan di atas zona support Fibonacci.

DISCLAIMER
PT Traze Andalan Futures teregulasi oleh BAPPEBTI.
Materi ini untuk referensi saja dan bukan untuk rekomendasi melakukan transaksi. Seluruh transaksi yang
diambil sepenuhnya akan menjadi tanggung jawab nasabah. Transaksi Perdagangan Berjangka Komoditi
(PBK) memiliki peluang keuntungan dan risiko kerugian yang tinggi

Peringatan Risiko: Trading forex memiliki risiko tinggi dan tidak cocok untuk semua investor. Sebelum memutuskan untuk berinvestasi di pasar valuta asing, Anda harus mempertimbangkan tujuan investasi, tingkat pengalaman, dan toleransi risiko Anda. Ada kemungkinan Anda akan kehilangan sebagian atau seluruh modal awal Anda, sehingga Anda tidak boleh menginvestasikan uang yang tidak siap untuk Anda rugikan. Pastikan Anda sepenuhnya memahami semua risiko yang terlibat dalam trading forex dan, jika diperlukan, carilah saran dari penasihat keuangan independen. Kinerja masa lalu tidak menjamin hasil di masa depan. Semua keputusan investasi merupakan tanggung jawab pribadi, dan tidak ada jaminan dari pihak mana pun bahwa Anda akan memperoleh keuntungan dari trading forex.

Disclaimer: Trading Kontrak Derivatif dalam Sistem Trading Alternatif mungkin tidak sesuai untuk semua investor. Anda dapat mengalami kerugian yang signifikan dalam waktu singkat. Jumlah uang yang Anda rugikan bisa lebih besar dari dana awal (Initial Margin) yang Anda setorkan ke Pialang Berjangka. Anda bisa kehilangan seluruh Margin Anda serta Margin tambahan yang ditempatkan di Pialang Berjangka untuk mempertahankan posisi Kontrak Derivatif Anda dalam Sistem Trading Alternatif. Hal ini karena Trading Berjangka sangat dipengaruhi oleh leverage, di mana investasi yang relatif kecil dapat digunakan untuk membuka posisi dengan nilai aset yang jauh lebih tinggi. Jika Anda tidak siap menghadapi risiko tersebut, sebaiknya Anda tidak melakukan trading Kontrak Derivatif dalam Sistem Trading Alternatif.

PT Traze Andalan Futures adalah Pialang Berjangka yang berizin dan diawasi oleh Badan Pengawas Perdagangan Berjangka Komoditi (BAPPEBTI) dengan Nomor Izin Usaha: 661/BAPPEBTI/SI/IV/2005 dan nomor izin SPA: 1294/BAPPEBTI/SP/7/2007, Otoritas Jasa Keuangan (OJK) dengan Nomor Persetujuan Prinsip: S-161/PM.02/2025, Bank Indonesia (BI) dengan Nomor Terdaftar: 27/289/DPPK/Srt/B

PT Traze Andalan Futures merupakan Anggota Bursa Jakarta Futures Exchange (JFX) Nomor: SPAB-084/BBJ/09/04, anggota Kliring Berjangka Indonesia (KBI) Nomor: 09/AK-KBI/PN-PA/VII/2022, Anggota Indonesia Commodity & Derivatives Exchange (ICDX) Nomor 049/SK/ICDX/DIR/III/2025, anggota Indonesia Clearing House (ICH) Nomor 051/SK/ICH/DIR/III/2025, serta anggota Asosiasi Perdagangan Berjangka Komoditi Indonesia (ASPEBTINDO) Nomor 0055/ASPEBTINDO/ANG-B/7/2015.

Seluruh layanan dan produk yang dapat diakses melalui situs traze.co.id disediakan oleh PT Traze Andalan Futures dengan alamat terdaftar perusahaan berlokasi di Sinarmas Land Plaza Sudirman (dh. Sinarmas MSIG Tower), Lantai 35, Jl. Jenderal Sudirman KAV 21, Kuningan, Karet, Kecamatan Setiabudi, Kota Administrasi Jakarta Selatan, Provinsi DKI Jakarta, 12920 – Indonesia.

Harap diperhatikan bahwa PT Traze Andalan Futures tidak menyediakan layanan bagi penduduk di yurisdiksi tertentu, termasuk tetapi tidak terbatas pada Amerika Serikat, Brasil, Kanada, Mesir, Iran, Korea Utara (Democratic People’s Republic of Korea), dan Uni Eropa.

Nomor Sertifikat ISO/IEC 27001: 2026-4-0316

Official Website: www.traze.co.id | © 2026 Traze