Harga minyak mentah WTI menguat ke kisaran $56 per barel pada Rabu (17/12), bangkit tipis dari level terendah hampir lima tahun. Kenaikan ini dipicu keputusan Presiden AS Donald Trump yang memerintahkan blokade total terhadap kapal tanker minyak Venezuela yang terkena sanksi, menyusul penyitaan kapal ilegal dan peningkatan kehadiran militer AS di kawasan tersebut.
Meski demikian, ruang penguatan WTI tetap terbatas. Pasar masih dibayangi potensi kelebihan pasokan seiring kemajuan pembicaraan damai Rusia – Ukraina yang membuka peluang pelonggaran pembatasan ekspor minyak Rusia. Kondisi ini menambah tekanan di tengah sentimen pasokan global yang terus melimpah.
Sepanjang tahun ini, harga minyak kesulitan bangkit akibat peningkatan produksi dari OPEC+ serta lonjakan output produsen non-OPEC. Di sisi lain, tanda-tanda pelemahan permintaan mulai terlihat di China, Timur Tengah, dan Amerika Serikat, membuat WTI berada di jalur menuju kinerja tahunan terburuk dalam tujuh tahun terakhir.
OPINI ANALIS TRAZE

Harga WTI Oil masih berada dalam tren bearish setelah membentuk rangkaian lower high dan lower low, menegaskan dominasi tekanan jual. Beberapa Break of Structure (BOS) ke bawah menunjukkan seller tetap mengontrol arah pasar, meski harga saat ini mencoba melakukan rebound teknikal dari area weak low di sekitar $55.
Selama WTI tertahan di bawah zona supply $56.50 – $57.00, peluang kenaikan diperkirakan terbatas dan rawan berbalik turun. Rebound saat ini lebih bersifat koreksi, kecuali harga mampu menembus dan bertahan di atas area resistensi kunci tersebut.
DISCLAIMER
PT Traze Andalan Futures teregulasi oleh BAPPEBTI.
Materi ini untuk referensi saja dan bukan untuk rekomendasi melakukan transaksi. Seluruh transaksi yang
diambil sepenuhnya akan menjadi tanggung jawab nasabah. Transaksi Perdagangan Berjangka Komoditi
(PBK) memiliki peluang keuntungan dan risiko kerugian yang tinggi.