Harga minyak mentah WTI bergerak di sekitar $59.50 pada sesi Asia Kamis (20/11), didorong penurunan stok minyak AS yang lebih besar dari perkiraan. Data EIA menunjukkan persediaan turun 3,426 juta barel pada pekan yang berakhir 14 November, berbanding terbalik dengan kenaikan tajam pekan sebelumnya. Penurunan ini menunjukkan permintaan kilang dan ekspor yang lebih kuat, membuat pasokan berada sekitar 5% di bawah rata-rata lima tahun.
Namun potensi kenaikan harga WTI masih tertahan oleh perkembangan geopolitik. Dorongan baru untuk mengakhiri konflik Rusia–Ukraina memicu kekhawatiran pasokan tambahan jika kesepakatan damai tercapai. Laporan Reuters menyebut pemerintahan Presiden Donald Trump menekan Kyiv menerima proposal yang mencakup penyerahan wilayah dan sejumlah persenjataan, yang berpotensi membuka pintu bagi peningkatan aliran minyak Rusia ke pasar global.
Di sisi lain, ekspektasi pemangkasan suku bunga The Fed pada Desember merosot tajam akibat ketidakpastian ekonomi. Probabilitas penurunan 25 bps kini berada di bawah 30%, turun signifikan dari lebih 60% di awal bulan. Prospek suku bunga tinggi lebih lama biasanya mendukung penguatan dolar AS dan menekan harga WTI karena komoditas berbasis dolar menjadi lebih mahal bagi pembeli internasional.
USOIL SPOT– Technical Analysis

OPINI ANALIS TRAZE
Harga minyak WTI bergerak naik setelah memantul kuat dari support 58.485, menunjukkan minat beli mulai kembali. Pola higher low juga mengonfirmasi bahwa tekanan jual melemah dan momentum bullish mulai terbentuk.
Saat ini harga mendekati resistance pola triangle. Area ini menjadi penentu arah berikutnya karena sering memicu pergerakan besar ketika ditembus atau ditolak.
Jika resistance berhasil dilewati, WTI berpotensi naik menuju 60.500 – 61.000. Namun jika gagal menembus, harga bisa kembali melemah menuju area support untuk mencari pijakan baru.
DISCLAIMER
PT Traze Andalan Futures teregulasi oleh BAPPEBTI.
Materi ini untuk referensi saja dan bukan untuk rekomendasi melakukan transaksi. Seluruh transaksi yang
diambil sepenuhnya akan menjadi tanggung jawab nasabah. Transaksi Perdagangan Berjangka Komoditi
(PBK) memiliki peluang keuntungan dan risiko kerugian yang tinggi.