Harga minyak WTI turun di bawah $56 per barel pada Jumat (19/12) dan berpotensi mencatat penurunan mingguan kedua berturut-turut. Tekanan datang dari kekhawatiran kelebihan pasokan global, meski risiko geopolitik terus membayangi pasar. Awal pekan ini, harga sempat menyentuh level terendah hampir lima tahun, menandai lemahnya sentimen investor terhadap komoditas energi.
Faktor utama penekan harga berasal dari ekspektasi pasokan yang melimpah. OPEC+ mulai mengembalikan kapasitas produksi yang sebelumnya dihentikan, sementara produsen non-OPEC meningkatkan output. Di sisi lain, sinyal pelemahan permintaan muncul dari konsumen besar seperti China dan Amerika Serikat, membuat harga minyak terkoreksi sekitar 20% sepanjang tahun ini.
Meski demikian, eskalasi ketegangan geopolitik menahan penurunan lebih dalam. Amerika Serikat menghentikan aktivitas maritim yang melibatkan tanker minyak Venezuela yang terkena sanksi dan bersiap memperketat pembatasan terhadap sektor energi Rusia. Langkah serupa juga dilakukan Inggris dengan menjatuhkan sanksi pada sejumlah produsen minyak Rusia, memicu kekhawatiran gangguan pasokan di tengah pasar yang rapuh.
OPINI ANALIS TRAZE

Harga WTI Oil (USOIL) membentuk pola Head and Shoulders yang menandakan potensi kelanjutan tren bearish. Gagalnya harga menembus area 56,38 – 56,57 di zona Fibonacci 61,8% – 78,6% memperkuat tekanan jual, sementara pergerakan kini tertahan di sekitar neckline 55,69. Struktur ini mengindikasikan dominasi seller masih terjaga dalam jangka pendek.
Jika 55,69 ditembus secara valid, penurunan berpeluang berlanjut menuju 55,39 hingga 55,00 yang bertepatan dengan Fibonacci -27,2% dan -61,8%. Bahkan, skenario lanjutan membuka ruang ke 54,57 sebagai target ekstrem. Selama harga tetap di bawah trendline menurun, setiap rebound berpotensi menjadi peluang koreksi sebelum tekanan berikutnya muncul.
DISCLAIMER
PT Traze Andalan Futures teregulasi oleh BAPPEBTI.
Materi ini untuk referensi saja dan bukan untuk rekomendasi melakukan transaksi. Seluruh transaksi yang
diambil sepenuhnya akan menjadi tanggung jawab nasabah. Transaksi Perdagangan Berjangka Komoditi
(PBK) memiliki peluang keuntungan dan risiko kerugian yang tinggi.