Harga minyak mentah WTI terus melemah ke kisaran $58 per barel pada Kamis (13/11), memperpanjang penurunan lebih dari 4% dari sesi sebelumnya dan mencapai level terendah tiga minggu. Tekanan jual muncul setelah OPEC+ menyampaikan prospek pasar yang diperkirakan tetap berlimpah pasokan, dengan proyeksi bahwa produksi global akan seimbang dengan permintaan pada 2026, berbalik dari perkiraan defisit sebelumnya. Bahkan, pasokan sudah melampaui permintaan pada kuartal ketiga tahun ini.
Selain itu, Administrasi Informasi Energi AS (EIA) menaikkan perkiraan produksi minyak domestik untuk tahun depan. Di sisi lain, Badan Energi Internasional (IEA) kini melunakkan pandangan tentang puncak permintaan minyak, dan memperkirakan konsumsi global akan terus meningkat hingga 2050. Pasar kini menunggu laporan bulanan IEA yang akan dirilis hari ini untuk melihat kemungkinan sinyal tambahan yang dapat menekan harga lebih lanjut.
Tekanan harga juga diperburuk oleh data industri yang menunjukkan persediaan minyak mentah AS naik 1,3 juta barel pada pekan yang berakhir 12 November. Jika data resmi mengonfirmasi kenaikan ini, itu akan menjadi peningkatan stok dua minggu berturut-turut, memperkuat kekhawatiran kelebihan pasokan di pasar energi global dan menahan potensi pemulihan harga minyak dalam jangka pendek.
USOIL SPOT– Technical Analysis

OPINI ANALIS TRAZE
Pergerakan harga minyak WTI melemah mendekati $58 per barel setelah gagal menembus area supply $61–62. Tekanan jual masih kuat dengan tren turun yang terbentuk jelas pada grafik 4 jam.
Jika harga bertahan di atas area demand $56–57, ada peluang pantulan menuju $59–60 sebelum kembali turun. Namun penembusan di bawah zona tersebut bisa memicu penurunan lebih dalam.
Selama harga berada di bawah $60, sentimen pasar tetap bearish dan trader disarankan menunggu konfirmasi arah di sekitar area demand sebelum mengambil posisi baru.
DISCLAIMER
PT Traze Andalan Futures teregulasi oleh BAPPEBTI.
Materi ini untuk referensi saja dan bukan untuk rekomendasi melakukan transaksi. Seluruh transaksi yang
diambil sepenuhnya akan menjadi tanggung jawab nasabah. Transaksi Perdagangan Berjangka Komoditi
(PBK) memiliki peluang keuntungan dan risiko kerugian yang tinggi.