Harga minyak mentah WTI turun di bawah $94 per barel pada Jumat (20/03), setelah sempat melonjak hingga $101 pada sesi sebelumnya. Penurunan ini dipicu meredanya kekhawatiran pasar terhadap potensi kerusakan lanjutan pada infrastruktur energi di Timur Tengah. Pernyataan dari Amerika Serikat dan Israel memberi sinyal situasi yang lebih terkendali, sehingga tekanan terhadap harga mulai berkurang.
Presiden AS Donald Trump menegaskan bahwa Washington tidak berencana mengirim pasukan darat ke kawasan tersebut. Sementara itu, Menteri Keuangan Scott Bessent menyebut kemungkinan melemahnya rezim Iran dari dalam, sekaligus membuka peluang pencabutan sanksi terhadap ekspor minyak Iran. Di sisi lain, Perdana Menteri Israel Benjamin Netanyahu menyatakan negaranya tidak akan melanjutkan serangan ke fasilitas energi Iran, serta mengindikasikan konflik dapat berakhir lebih cepat dari perkiraan.
Meski terkoreksi, harga minyak WTI masih mencatat kenaikan sekitar 40% sejak awal konflik. Lonjakan ini terjadi akibat terganggunya pasokan global, termasuk penutupan Selat Hormuz yang menjadi jalur vital distribusi energi dunia. Kondisi tersebut memaksa produsen utama di kawasan untuk memangkas produksi secara signifikan, menjaga harga tetap tinggi meskipun tekanan jangka pendek mulai mereda.
OPINI ANALIS TRAZE

Harga WTI bergerak konsolidasi setelah tertahan di area resistance 98.300, dengan support kuat di zona 92.800 – 92.000. Selama bertahan di area ini, peluang rebound masih terbuka menuju 96.300 hingga 98.300, didukung indikasi akumulasi pada pergerakan terbaru.
Namun, jika harga turun menembus 90.000, skenario naik batal dan berisiko lanjut melemah lebih dalam. Saat ini, market masih dalam fase penentuan arah dengan kecenderungan bullish selama bertahan di atas support utama.
DISCLAIMER
PT Traze Andalan Futures teregulasi oleh BAPPEBTI.
Materi ini untuk referensi saja dan bukan untuk rekomendasi melakukan transaksi. Seluruh transaksi yang
diambil sepenuhnya akan menjadi tanggung jawab nasabah. Transaksi Perdagangan Berjangka Komoditi
(PBK) memiliki peluang keuntungan dan risiko kerugian yang tinggi.