Harga WTI crude oil futures bertahan di kisaran USD 56,6 per barel pada Selasa (16/12), mencetak level terendah sejak awal 2021. Tekanan datang dari ekspektasi kelebihan pasokan global serta meningkatnya optimisme terhadap peluang perdamaian Ukraina. Kondisi tersebut membuat pelaku pasar lebih berhati-hati karena potensi tambahan suplai dinilai dapat menekan pergerakan harga energi dalam waktu dekat.
Sentimen pasar semakin terpengaruh setelah pejabat Amerika Serikat menyampaikan bahwa kesepakatan Rusia–Ukraina disebut lebih dekat dibanding sebelumnya. Washington menyatakan kesediaan memberikan jaminan keamanan bagi Kyiv, meskipun persoalan wilayah belum menemukan titik temu. Jika perjanjian tercapai, sanksi minyak Rusia berpeluang dicabut, membuka jalan kembalinya ekspor dalam jumlah besar ke pasar internasional yang sudah relatif longgar.
Tekanan suplai juga meningkat seiring langkah OPEC+ mengembalikan produksi yang sempat dihentikan, sementara negara non-OPEC di kawasan Amerika terus menaikkan output. Dari sisi permintaan, data ekonomi Tiongkok yang melemah memicu kekhawatiran terhadap perlambatan konsumsi energi dari importir minyak terbesar dunia. Kombinasi faktor tersebut memperkuat pandangan negatif terhadap prospek harga minyak dalam jangka pendek.
OPINI ANALIS TRAZE

Harga WTI crude oil pada grafik H1 masih bergerak dalam tren bearish, terlihat dari pola lower high dan lower low yang konsisten. Harga tertahan di bawah resistance dinamis area 58,30, menandakan tekanan jual tetap dominan dan peluang kenaikan masih terbatas.
Selama berada di bawah pivot 56,77, WTI berpotensi melanjutkan penurunan menuju support 55,94 hingga 55,40. Sinyal pembalikan arah baru akan muncul jika harga mampu menembus 57,31, namun untuk saat ini bias pergerakan masih condong melemah.
DISCLAIMER
PT Traze Andalan Futures teregulasi oleh BAPPEBTI.
Materi ini untuk referensi saja dan bukan untuk rekomendasi melakukan transaksi. Seluruh transaksi yang
diambil sepenuhnya akan menjadi tanggung jawab nasabah. Transaksi Perdagangan Berjangka Komoditi
(PBK) memiliki peluang keuntungan dan risiko kerugian yang tinggi.