Harga WTI crude oil turun ke bawah area USD 63 per barel pada Jumat (06/02), melanjutkan pelemahan dari sesi sebelumnya dan mengarah pada penurunan mingguan pertama dalam enam pekan. Fokus pasar tertuju pada agenda perundingan antara Iran dan Amerika Serikat, yang meredakan kekhawatiran jangka pendek terkait potensi konflik dan gangguan pasokan global.
Konfirmasi dari Iran mengenai berlangsungnya negosiasi turut menekan sentimen bullish, mengingat negara tersebut merupakan salah satu produsen utama OPEC dengan kontribusi besar terhadap suplai minyak dunia. Meski demikian, perbedaan pandangan mengenai ruang lingkup pembahasan membuat pelaku pasar masih bersikap hati-hati terhadap hasil konkret dari dialog tersebut.
Dari sisi pasokan, keputusan Arab Saudi memangkas harga jual minyak ke pasar Asia ke level terendah sejak akhir 2020 memperkuat sinyal kelebihan suplai. Namun, penurunan yang lebih kecil dari perkiraan menunjukkan keyakinan bahwa permintaan tetap solid. Di sisi lain, dinamika geopolitik Rusia–Ukraina dan perkembangan komunikasi militer antara Washington dan Moskow terus menjadi faktor tambahan yang memengaruhi pergerakan harga minyak.
OPINI ANALIS TRAZE

Pergerakan WTI Oil saat ini menunjukkan tekanan lanjutan setelah harga gagal bertahan di area supply dan membentuk struktur lower high. Pola ini menandakan dominasi seller masih kuat, diperkuat oleh penolakan harga di area Fibonacci penting yang berdekatan dengan golden ratio. Selama harga bergerak di bawah garis tren menurun, bias pelemahan cenderung tetap terjaga.
Dari sisi support, area demand di bawah menjadi zona krusial yang berpotensi memicu reaksi teknikal. Pantulan jangka pendek masih memungkinkan jika harga merespons area tersebut dengan kuat, namun kegagalan bertahan dapat membuka ruang penurunan lebih dalam menuju support berikutnya. Pelaku pasar disarankan menunggu konfirmasi struktur sebelum mengambil posisi, mengingat volatilitas masih relatif tinggi.
DISCLAIMER
PT Traze Andalan Futures teregulasi oleh BAPPEBTI.
Materi ini untuk referensi saja dan bukan untuk rekomendasi melakukan transaksi. Seluruh transaksi yang
diambil sepenuhnya akan menjadi tanggung jawab nasabah. Transaksi Perdagangan Berjangka Komoditi
(PBK) memiliki peluang keuntungan dan risiko kerugian yang tinggi.