- WTI crude oil naik lebih dari 1% ke $59,2 per barel setelah OPEC+ menegaskan penundaan kenaikan produksi hingga awal tahun depan.
- Prospek damai Rusia–Ukraina menahan penguatan harga karena berpotensi menambah pasokan minyak global yang sudah mengarah ke surplus tahun depan.
- Ketegangan geopolitik meningkat setelah Presiden Trump mengancam Venezuela terkait penutupan wilayah udara, menambah ketidakpastian pasar energi.
Harga WTI crude oil futures menguat lebih dari 1% ke level $59,2 per barel pada Senin (01/12), setelah OPEC+ kembali menegaskan keputusan untuk menangguhkan kenaikan produksi selama kuartal pertama tahun depan. Langkah tersebut, yang pertama kali diumumkan pada awal Oktober, didorong oleh faktor musiman yang biasanya menekan permintaan di awal tahun.
Meski begitu, ruang penguatan harga minyak masih terbatas akibat meningkatnya peluang kesepakatan damai Rusia–Ukraina. Jika tercapai, sanksi terhadap minyak Rusia berpotensi dilonggarkan sehingga menambah pasokan ke pasar yang sudah diperkirakan mengalami surplus besar tahun depan. Kekhawatiran kelebihan suplai ini turut menyebabkan harga minyak mencatat penurunan bulanan keempat berturut-turut pada November.
Di sisi lain, ketegangan geopolitik kembali mencuat setelah Presiden Trump melontarkan ancaman keras terhadap Venezuela akhir pekan lalu dengan menyebut wilayah udara negara tersebut sebagai “tertutup.” Meski pernyataan itu kemudian dilunakkan, komentar tersebut tetap menambah ketidakpastian pasar energi global.
OPINI ANALIS TRAZE
WTI masih berada dalam tren turun dengan tekanan jual dominan selama harga tertahan di bawah resistance 60.03 dan jauh dari level kunci 68.84. Penurunan berpotensi berlanjut jika harga turun di bawah support 58.72, membuka jalan menuju 58.15 hingga 57.00, sementara kenaikan hanya bersifat korektif selama resistance belum ditembus.
DISCLAIMER
PT Traze Andalan Futures teregulasi oleh BAPPEBTI.
Materi ini untuk referensi saja dan bukan untuk rekomendasi melakukan transaksi. Seluruh transaksi yang
diambil sepenuhnya akan menjadi tanggung jawab nasabah. Transaksi Perdagangan Berjangka Komoditi
(PBK) memiliki peluang keuntungan dan risiko kerugian yang tinggi.