Harga emas menguat menembus level $4.320 per ounce pada Rabu (17/12), mendekati rekor tertinggi sepanjang masa yang terakhir terlihat pada Oktober. Kenaikan ini dipicu keyakinan pasar bahwa Federal Reserve masih memiliki ruang untuk melonggarkan kebijakan moneter pada tahun depan, sehingga meningkatkan daya tarik emas sebagai aset lindung nilai.
Dukungan tambahan datang dari melemahnya pasar tenaga kerja AS, ditandai kenaikan tingkat pengangguran ke 4,6%, tertinggi sejak 2021, serta perlambatan pertumbuhan upah ke level terlemah dalam lebih dari dua tahun. Kondisi tersebut memperkuat ekspektasi pemangkasan suku bunga hingga dua kali pada 2026, dengan pelaku pasar mulai memperhitungkan pelonggaran kebijakan sekitar 59 basis poin.
Fokus investor kini tertuju pada rilis data inflasi AS, dimulai dari CPI November pada Kamis dan disusul PCE pada Jumat, untuk menilai arah kebijakan The Fed selanjutnya. Di sisi lain, meningkatnya ketegangan geopolitik akibat blokade total AS terhadap kapal tanker minyak Venezuela turut menopang harga emas, meski sebagian risiko mereda seiring kemajuan pembicaraan damai Rusia – Ukraina.
OPINI ANALIS TRAZE

Pergerakan XAUUSD grafik H1 masih bullish meski bergerak konsolidatif di bawah area weak high sekitar 4.350. Struktur BOS sebelumnya menegaskan kekuatan buyer, sementara kemunculan ChoCH menunjukkan pasar tengah menunggu katalis lanjutan.
Selama harga bertahan di atas zona demand 4.280 – 4.260, peluang kenaikan tetap terbuka menuju puncak sebelumnya. Sebaliknya, penembusan area ini berisiko memicu koreksi lebih dalam.
DISCLAIMER
PT Traze Andalan Futures teregulasi oleh BAPPEBTI.
Materi ini untuk referensi saja dan bukan untuk rekomendasi melakukan transaksi. Seluruh transaksi yang
diambil sepenuhnya akan menjadi tanggung jawab nasabah. Transaksi Perdagangan Berjangka Komoditi
(PBK) memiliki peluang keuntungan dan risiko kerugian yang tinggi.