Harga emas kembali menanjak mendekati $4.200 per ounce pada Jumat (28/11), menyentuh level tertinggi lima minggu seiring meningkatnya ekspektasi pasar terhadap pemangkasan suku bunga Federal Reserve pada Desember. Serangkaian pernyataan bernada dovish dari pejabat The Fed serta data ekonomi yang menunjukkan pelemahan memperkuat pandangan bahwa era pelonggaran moneter segera dimulai, mendorong minat terhadap aset aman.
Sentimen pasar semakin menguat setelah Kevin Hassett, kandidat kuat pengganti Jerome Powell, menyatakan dukungan terhadap langkah pemangkasan suku bunga yang juga didorong oleh Presiden Trump. Probabilitas pemotongan 25 bps bulan depan kini melewati 80%, jauh di atas 30% pada pekan sebelumnya. Investor bahkan mengantisipasi tiga penurunan tambahan hingga 2026, mencerminkan keyakinan bahwa kebijakan moneter ke depan akan lebih longgar.
Di tengah derasnya pembelian bank sentral dan arus masuk ETF non-pemerintah, emas berada di jalur meraih performa tahunan terbaik sejak 1979. Prospek ini semakin diperkuat oleh proyeksi Morgan Stanley yang memperkirakan harga emas dapat menembus $4.500 per ounce pada pertengahan 2026, didukung lemahnya dolar, permintaan lindung nilai aset riil, serta meningkatnya ketidakpastian geopolitik dan makroekonomi global.
OPINI ANALIS TRAZE
Secara teknikal, emas masih berada dalam tren naik kuat dengan momentum yang stabil. Level resistance terdekat berada di sekitar $4.200, dan penembusan di atasnya dapat membuka ruang menuju $4.260–$4.300. Sementara itu, support utama berada di kisaran $4.050, yang menjadi batas penting bagi keberlanjutan tren bullish. Selama harga bertahan di atas area tersebut, prospek kenaikan tetap dominan.
DISCLAIMER
PT Traze Andalan Futures teregulasi oleh BAPPEBTI.
Materi ini untuk referensi saja dan bukan untuk rekomendasi melakukan transaksi. Seluruh transaksi yang
diambil sepenuhnya akan menjadi tanggung jawab nasabah. Transaksi Perdagangan Berjangka Komoditi
(PBK) memiliki peluang keuntungan dan risiko kerugian yang tinggi.