Harga emas turun menuju $4.020 per ounce pada Selasa (18/11), memperpanjang pelemahan hingga empat sesi berturut-turut. Penurunan ini dipicu meredupnya harapan pemangkasan suku bunga AS seiring pasar menunggu rilis sejumlah laporan ekonomi yang tertunda. Minimnya data enam minggu terakhir serta nada hawkish sejumlah pejabat The Fed membuat peluang pelonggaran kebijakan pada Desember semakin mengecil.
Pernyataan Wakil Ketua The Fed, Philip Jefferson, turut menambah tekanan setelah ia menekankan risiko pelemahan ketenagakerjaan yang meningkat, meski tetap menyerukan langkah hati-hati dalam proses penurunan suku bunga berikutnya. Pelaku pasar kini mengalihkan fokus pada data tenaga kerja September yang akan dirilis Kamis untuk menilai kekuatan ekonomi AS.
Risalah pertemuan terbaru The Fed yang akan dipublikasikan Rabu juga menjadi sorotan sebagai petunjuk arah kebijakan selanjutnya. Saat ini, pasar hanya memperkirakan sekitar 43% kemungkinan pemangkasan 25 bps pada Desember, jauh lebih rendah dibandingkan proyeksi awal bulan yang sempat melebihi 60%.
XAUUSD – Technical Analysis

OPINI ANALIS TRAZE
XAUUSD di grafik 4 jam terus melemah setelah ditolak area supply dan kini bergerak menuju zona demand utama. Area ini menjadi penahan terakhir bagi pembeli karena sebelumnya mampu memicu kenaikan kuat. Jika muncul respons beli, emas berpeluang memantul dalam jangka pendek.
Potensi kenaikan dapat membawa harga kembali menguji garis tren naik dan level resistance terdekat. Namun, kenaikan baru dianggap kuat hanya jika harga berhasil menembus struktur turun yang masih mendominasi.
Jika zona demand tidak bertahan, emas bisa jatuh lebih dalam menuju support berikutnya dan memperkuat sinyal perubahan tren. Reaksi harga di area ini akan menentukan arah pergerakan selanjutnya.
DISCLAIMER
PT Traze Andalan Futures teregulasi oleh BAPPEBTI.
Materi ini untuk referensi saja dan bukan untuk rekomendasi melakukan transaksi. Seluruh transaksi yang
diambil sepenuhnya akan menjadi tanggung jawab nasabah. Transaksi Perdagangan Berjangka Komoditi
(PBK) memiliki peluang keuntungan dan risiko kerugian yang tinggi.