Harga emas naik ke sekitar $5.110 per ons pada Jumat (13/03) setelah dua hari mengalami penurunan. Kenaikan ini terjadi ketika pelaku pasar menilai kembali premi risiko geopolitik di tengah lonjakan harga minyak yang memicu kekhawatiran inflasi global. Ketidakpastian pasar membuat aset lindung nilai seperti emas kembali diminati investor.
Ketegangan meningkat setelah Donald Trump dan pemimpin tertinggi baru Iran Mojtaba Khamenei menyampaikan pernyataan keras pada hari ke-13 konflik. Trump menegaskan bahwa mencegah Iran memiliki senjata nuklir lebih penting dibanding dampak kenaikan harga minyak. Di sisi lain, Khamenei memperingatkan bahwa Iran akan terus menutup jalur strategis Strait of Hormuz dan bahkan membuka front konflik baru jika serangan dari Amerika Serikat dan Israel berlanjut.
Lonjakan harga energi akibat ketegangan tersebut meningkatkan kekhawatiran inflasi global, sekaligus menekan harapan pemangkasan suku bunga oleh Federal Reserve. Pasar kini menilai hampir tidak ada peluang penurunan suku bunga pada pertemuan pekan depan, sementara kemungkinan pemangkasan sepanjang tahun ini diperkirakan sekitar 70%. Meski sempat menguat, emas masih berpotensi mencatat penurunan selama dua minggu berturut-turut karena ekspektasi kebijakan moneter yang lebih ketat.
OPINI ANALIS TRAZE

Pergerakan XAUUSD timeframe satu jam menunjukkan pemulihan setelah harga memantul dari support kuat di sekitar 5.057. Saat ini emas bergerak di atas area 5.097 yang menjadi support intraday, menandakan momentum rebound mulai terbentuk setelah tekanan jual sebelumnya.
Selama harga bertahan di atas level tersebut, peluang kenaikan menuju resistance 5.164 masih terbuka dengan target lanjutan di sekitar 5.191. Namun jika support 5.097 ditembus, harga berpotensi kembali menguji area kunci 5.057.
DISCLAIMER
PT Traze Andalan Futures teregulasi oleh BAPPEBTI.
Materi ini untuk referensi saja dan bukan untuk rekomendasi melakukan transaksi. Seluruh transaksi yang
diambil sepenuhnya akan menjadi tanggung jawab nasabah. Transaksi Perdagangan Berjangka Komoditi
(PBK) memiliki peluang keuntungan dan risiko kerugian yang tinggi.