Indeks dolar AS turun ke kisaran 96,8 pada Kamis setelah mengalami volatilitas tinggi di sesi sebelumnya. Meski data ketenagakerjaan Amerika Serikat melampaui ekspektasi, mata uang Paman Sam tetap kesulitan menguat. Pelaku pasar menilai peluang pemangkasan suku bunga Federal Reserve dalam waktu dekat semakin kecil, namun sentimen tersebut belum mampu mengangkat posisi dolar secara signifikan.
Tekanan tambahan datang dari penguatan yen Jepang yang melesat setelah adanya pernyataan terbaru otoritas Tokyo terkait nilai tukar. Optimisme terhadap kebijakan fiskal ekspansif Perdana Menteri Sanae Takaichi juga mendorong prospek pertumbuhan ekonomi domestik Jepang, sehingga meningkatkan daya tarik yen dan membebani pergerakan greenback di pasar global.
Sementara itu, laporan terbaru menunjukkan payrolls AS bertambah 130.000 pada Januari, kenaikan terbesar dalam lebih dari setahun. Tingkat pengangguran turun tak terduga ke 4,3%, menandakan pasar tenaga kerja mulai stabil di awal 2026. Data solid ini mengerek imbal hasil obligasi pemerintah dan memperkuat sikap The Fed untuk menahan suku bunga, dengan pasar kini memperkirakan penurunan biaya pinjaman baru akan terjadi pada Juli, bukan Juni.
OPINI ANALIS TRAZE

DXY memantul dari demand zone 96.17 – 96.35 setelah membentuk struktur bearish dan mencetak lower low. Munculnya perubahan karakter (ChoCH) mengindikasikan tekanan jual mulai melemah, dengan harga kini berkonsolidasi di sekitar area Fibonacci 50%.
Selama bertahan di atas 96.30, potensi kenaikan menuju 96.77 hingga 97.17 masih terbuka. Namun jika kembali menembus area demand, indeks berisiko melanjutkan pelemahan ke sekitar 95.70.
DISCLAIMER
PT Traze Andalan Futures teregulasi oleh BAPPEBTI.
Materi ini untuk referensi saja dan bukan untuk rekomendasi melakukan transaksi. Seluruh transaksi yang
diambil sepenuhnya akan menjadi tanggung jawab nasabah. Transaksi Perdagangan Berjangka Komoditi
(PBK) memiliki peluang keuntungan dan risiko kerugian yang tinggi.