Indeks dolar bertahan di sekitar level 99,5 pada Rabu (12/11), melanjutkan pelemahan dari sesi sebelumnya setelah data pasar tenaga kerja menunjukkan tanda-tanda perlambatan. Laporan ADP mengungkapkan bahwa perusahaan swasta memangkas rata-rata 11.250 pekerjaan per minggu dalam empat pekan hingga 25 Oktober. Kondisi ini menambah kekhawatiran terhadap ketahanan ekonomi AS, terutama di tengah penundaan rilis laporan ketenagakerjaan resmi akibat penutupan pemerintahan.
Pasar kini memperkirakan peluang sebesar 68% bahwa Federal Reserve akan menurunkan suku bunga sebesar 25 basis poin pada Desember, naik dari 62% sehari sebelumnya. Ekspektasi tersebut didorong oleh meningkatnya keyakinan bahwa langkah pelonggaran moneter dibutuhkan untuk menopang pertumbuhan ekonomi yang mulai melambat.
Sementara itu, sentimen pasar membaik seiring optimisme bahwa kebuntuan politik di Washington segera berakhir, dengan DPR AS yang dikuasai Partai Republik berencana menyetujui rancangan undang-undang untuk memulihkan pendanaan bagi sejumlah lembaga penting. Sepanjang pekan ini, dolar melemah terhadap euro, dolar Australia, dan dolar Selandia Baru, namun menguat atas poundsterling serta yen Jepang.
DXY – Technical Analysis

OPINI ANALIS TRAZE
Pergerakan Indeks Dolar AS (DXY) melemah setelah gagal bertahan di atas area 99.80. Grafik 4 jam menunjukkan pola penurunan dengan resistensi kuat di 99.37, menandakan tekanan jual masih dominan.
Jika harga menembus 98.78, DXY berpeluang turun lebih dalam menuju area 98.20 sebagai zona support berikutnya. Namun, bila mampu menembus 99.37, peluang rebound menuju 99.87 masih terbuka.
Secara teknikal, tren jangka pendek dolar cenderung bearish. Pelaku pasar disarankan waspada terhadap potensi pullback sebelum penurunan berlanjut, seiring ekspektasi pemangkasan suku bunga The Fed yang menekan daya tarik dolar.
DISCLAIMER
PT Traze Andalan Futures teregulasi oleh BAPPEBTI.
Materi ini untuk referensi saja dan bukan untuk rekomendasi melakukan transaksi. Seluruh transaksi yang
diambil sepenuhnya akan menjadi tanggung jawab nasabah. Transaksi Perdagangan Berjangka Komoditi
(PBK) memiliki peluang keuntungan dan risiko kerugian yang tinggi.