Nilai dolar AS kembali melemah ke kisaran 97,7 pada Rabu (24/12), mencatat level terendah sejak awal Oktober. Pelemahan ini dipicu ekspektasi pasar bahwa Federal Reserve memiliki ruang untuk memangkas suku bunga pada tahun depan. Meski pertumbuhan ekonomi Amerika Serikat tetap solid, data terbaru belum mampu mengubah pandangan investor terhadap arah kebijakan moneter.
Pelaku pasar kini memperhitungkan dua kali penurunan suku bunga pada 2026 seiring tekanan inflasi yang mereda dan kondisi pasar tenaga kerja yang semakin seimbang. Dorongan Presiden Trump untuk kebijakan yang lebih longgar turut memengaruhi sentimen, meskipun pejabat The Fed masih menunjukkan perbedaan pandangan. Situasi ini memperkuat ketidakpastian arah dolar dalam jangka menengah.
Tekanan tambahan datang dari aliran dana ke logam mulia sebagai aset aman, meningkatnya risiko geopolitik, serta penguatan yen setelah Bank of Japan menaikkan suku bunga dan membuka peluang intervensi. Perbedaan kebijakan global dan pola pelemahan akhir tahun semakin membebani mata uang AS. Sepanjang tahun ini, dolar berpotensi mencatat kinerja tahunan terburuk dalam lebih dari dua dekade akibat gejolak kebijakan perdagangan dan kekhawatiran terhadap independensi bank sentral.
OPINI ANALIS TRAZE

Indeks Dolar AS (DXY) masih berada dalam tekanan setelah gagal menembus area resistance utama di sekitar level 100. Struktur grafik mengindikasikan dominasi seller dengan terbentuknya pola penurunan yang memperkuat arah bearish.
Secara teknikal, support terdekat berada di area 97 dan berpotensi diuji kembali. Selama harga tetap bergerak di bawah zona penolakan, peluang pelemahan lanjutan masih lebih dominan.
DISCLAIMER
PT Traze Andalan Futures teregulasi oleh BAPPEBTI.
Materi ini untuk referensi saja dan bukan untuk rekomendasi melakukan transaksi. Seluruh transaksi yang
diambil sepenuhnya akan menjadi tanggung jawab nasabah. Transaksi Perdagangan Berjangka Komoditi
(PBK) memiliki peluang keuntungan dan risiko kerugian yang tinggi.